Sunday, December 28, 2014

makalah tasawuf - konsep wihdatul al-wujud



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tasawuf ada beberapa aliran, seperti tasawuf Akhlaqi, tasawuf Sunni dan tasawuf Falsafi. Adapula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf 'Amali, tasawuf Falsafi dan tasawuf 'Ilmi. Akan tetapi dalam makalah kecil ini hanya akan dibahas secara lebih fokus tentang tasawuf Falsafi saja.
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermcam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah itu tasawuf falsafi menurut tokoh-tokoh?
2.      Bagaimana sejarah tasawuf falsafi?
3.      Siapa sajakah tokoh-tokoh tasawuf falsafi?
4.      Apakah konsep Wihdatul al-Wujud ?








PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasauwuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[1]
Bisa juga dikatakan bahwa tasawuf falsafi adalah tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. Kalau tasawuf sunni atau salafi lebih menonjol kepada segi praktis, sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendekatan-pendekatan filosofis yang sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil, namun tetap bisa diaplikasikan pada kenyataannya.
Menurut at-taftazani, tasawuf falsafi mulai muncul dengan jelas dalam khazanah islam sejak abad keenam hijriyah, meskipun para tokohnya baru dikenal seabad kemudian. Sejak itu, tasawuf jenis ini tersu hidup dan berkembang, terutamadi kalangan para sufi yang juga filosof, sampai menjelang akhir-akhir ini.
Masih menurut at-taftazani, ciri umum tasawuf falsafi adalah ajarannya yang samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh siapa saja yang memahami ajaran tasawuf jenis ini.[2] Tasawuf falsafi tidak dapat di pandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan padarasa (dzauq) tetapi tidak dapat pula di kategorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajrannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.[3]
B.     Sejarah Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi muncul pada sekitar adad ke 6 dan 7 H, ditandai dengan diperkenalkannya tokoh-tokoh pemikiran sufi yang filosof dan filosof yang sufi ketika tasawuf bercampur dengan filsafat menyerap beragam pemikiran filsafat asing di luar Islam dari Yunani, Persia, India, Mesir, Yahudi, dan Kristen tanpa kehilangan keautentikan Islam sebagai agama.
Salah satu kerangka umum tasawuf falsafi adalah bahwa tasawufnya tidak jelas, mempunyai bahasa-bahasa tersendiri dan memahaminya memerlukan daya rasa yang tidak biasa, dan sebab itu tasawuf falsafi tidak dianggap filsafat karena dilandaskan pada intuisi, juga bukan tasawuf murnikarena diungkapkan dengan bahasa-bahasa filsafat yang mengarah pada pembentukan aliran pemikiran dalam pembahasan ‘wujud’.[4]
Pada sufi falsafi mengenal dan memperdalam filsafat aliran Socrates, Plato, Aristoteles, Neoplatonisme, teori emanasi, Hermetisisme, dan buku-buku filsafat lainnya dari; Timur, Persia, India dan Filsafat Islam; al-Farabi, Ibn Sina, Ibnu Rusyd dan lainnya untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Sebagian dari mereka ada juga yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Syiah Ismailiyah, Batiniyah dan Risalah-Rislah Ikhwan as-Shafa’.[5]
Ibn Khaldun[6] dalam Muqaddimahnya melihat ada empat pembahasan utama para sufi falsafi pada masa terakhir, yaitu:
a.       Mujahadah (memerangi hawa nafsu) dan segala sesuatu yang dihasilkan yang berupa intuisi, naluri perasaan, control jiwa dalam berbuat.
b.      Kasyf dan hakekat yang ditemukan dari alam ghaib semisal sifat-sifat ketuhanan, Arasy, Kursy, Malaikat, Wahyu, Kenabian, Ruh, Hakikat-hakikat segala sesuatu yang wujud baik yang tak tampak maupun tampak, tatanan alam dalam kemunculannya dari dzat yang mewujudkan dan membentuknya.
c.       Otoritas terhadap alam melalui berbagai bentuk karomah atau khawariqul Adah (kemampuan melampaui hukum alam).
d.      Munculnya kata-kata yang membingungkan dan tinjauan luar yang dikenal dengan Syathahat, yaitu sebuah ungkapan yang bermasalah dari tinjauan luarnya, sedangkan persepsi manusia terhadapnya adalah diantara mengingkari, beranggapan baik dan mentakwil.
Ajaran dan pemikiran tasawuf falsafi pada umumnya merupakan pengalaman serta perjalanan para sufi pengamal tasawuf falsafi yang kemudian dituangkan dan ditransfer kepada murid-muridnya atau melalui hasil karya tulisnya. Diantaranya yang sudah menjadi ikon ajaran tasawuf falsafi adalah :
1.       AL-FANA
Al Fana adalah bersatunya manusia dengan Allah secara hakikat karena seesensi dengan Allah. Apabila kemampuan meleburkan eksistensi (keberadaannya) sebagai suatu pribadi terjadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya (fana’an nafs). Fana’an nafs, adalah hilangnya kesadaran kemanusiaannya ketika menyatu ke dalam iradah Allah, bukan jasad tubuhnya yang menyatu dengan Dzat Allah.
2.       AL-ITTIHAD
Al-Ittihad adalah perpaduan esensi manusia dengan Tuhannya dalam keadaan fana sehingga wujudnya kekal atau al-baqa dan menemukan jati dirinya sebagai manusia yang berasal dari Tuhan.
Pemahaman ini timbul dari adanya pendapat yang bahwa jiwa manusia adalah pancaran dari Nur Ilahi, akunya manusia itu adalah pancaran dari yang Maha Esa. Kemampuan membebaskan diri dari alam lahiriahnya, atau kemampuan untuk meniadakan pribadinya dari kesadarannya sebagai insan, kemudian memperoleh jalan kembali kepada sumber asalnya, yakni menyatu padu dengan Yang Tunggal, sehingga yang dilihat dan dirasakan hanya satu.
3.       AL-HULUL
Menurut al-Hallaj, manusia mempunyai sifat dasar yang ganda, yaitu sifat ke-Tuhan-an atau lahut dan sifat kemanusiaan atau nasut. Begitu juga dengan Tuhan memiliki sifat ganda, yaitu sifat-sifat Ilahiyat atau Lahut dan sifat insaniyah atau nasut. Jika seseorang mampu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya dan mengembangkan sifat-sifat Ilahiyatnya melalui fana, maka terjadilah kesatuan manusia dengan Tuhan dan inilah yang dimaksud dengan hulul.[7]
4.       AL-WAHDAT AL-WUJUD
Wahdat al-Wujud adalah Kesatuan wujud, unity of existence yakni kelanjutan atau pengembangan dari pemahaman ‘Hulul’, dimana nasut (sifat-sifat insaniyah) menjadi ‘khalq, makhluk’ dan lahut (sifat-sifat ilahiyah) menjadi haq. Ada dua aspek dalam konsepsi wahdat al-wujud yakni ‘khalq dan haq’, mirip dengan ‘yin dan yang’ dalam filsafat Cina. Sinonim dari kata ‘haq’ adalah ‘al-ard , berarti accident’, dan ‘al-jauhar berarti substance’, dan dari al-zahir, berarti lahir, luar dan al-batin berati batin, dalam. Nicholson mengatakan : “The eternal and the phenomenal are two complementary aspects of the One, each of which is necessary to the other; The creatures are the external manifestation of the Creator”, begitu juga dengan Harun Nasution (1978) yang memahami wahdat al-wujud bahwa pada setiap yang ada (wujud) mempunyai dua aspek, yaitu aspek luar, al-ard dan khalq yang mempunyai sifat kemakhlukkan dan aspek dalam yang merupakan jauhar dan haq yang mempunyai sifat ketuhanan.[8] Dan yang terpenting menurut paham ini adalah aspek batinnya – al-Haqq- yang merupakan hakikat atau esensi dari tiap-tiap yang berwujud.
5.       AL-WAHDAT AS-SYUHUD
Konsepsi al-wahdat as-syuhud merupakan ajaran tasawuf yang mirip dengan paham Al-wahdat al-wujud dan dapat dianggap sebagai dokrin ini mendapat pengaruh dari Ibn Arabi, yang diperkenalkan oleh Umar Ibn al-Faridh (w.632H).
Melalui latihan dan konsentrasi batin yang teratur, maka cintanya kepada Allah semakin mendalam dan semakin menguasai segenap relung kalbunya sehingga ia dapat merasakan getaran cahaya Tuhan dan akhirnya yang ia rasakan dan ia lihat hanya satu yakni Yang Esa. Situasi mistis yang demikian itu disebut wahdat as-syuhud.
6.       AL-ISYRAQIYAH
Al-Isyraq berarti bersinar atau memancarkan cahaya dan nampaknya searti dengan al-kasyf. Al-Isyraq lebih tepat diartikan penyinaran atau illuminasi, adalah kombinasi perenungan pemikiran spekulatif gabungan dari tasawuf dan filsafat dari berbagai aliran. Karya al-Maqtul adalah Hikmatul Isyraq, yang merupakan adonan sempurna berbagai unsur tasawuf dan filsafat. Menurut Suhrawardi, sumber dari segala yang ada ialah Cahaya Yang Mutlak yang ia sebut dengan Nur al-Anwar, mirip matahari. Walaupun ia memancarkan cahayanya terus menerus, namun cahayanya tidak pernah berkurang dan bahkan sama sekali tidak terpengaruh. Nur dalam konsep ini nampaknya analogis dengan rahmat Tuhan (faidh).[9]



C.    Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi
1.      Ibn ‘Arabi (560-638H/1165-1240 M)
a.       Biografi Singkat Ibn’arabi
Nama lengkap ibn ‘arabi adalah muhammad bin ‘ali bin ahmad bin ‘abdullah ath-tha’i al-haitami. Ia lahir di mercia, andalusia tenggara, spanyol, tahun 560 H, dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuan. Tahun 620 H, ia tinggal di Hijaz dan meninggal di sana pada tahun 638 H. Namaya biasa di sebut tanpa Al untuk membedakan dengan abu bakar tanpa “al” untuk membedakan dengan abu bakar ibn al-‘arabi seorang qadhi dari sevilla yang wafat tahun 543 H. Di sevilla (spanyol), ia mempelajari al-Qur’an, hadis serta fiqih pada sejumlah murid andalusia terkenal, yakni ibn hazm az-zhahiri.[10]
b.       Ajaran-ajaran tasawuf ibn’arabi
Secara bahasa “wahdatul al wujud” terdiri atas dua kata yaitu wahdat dan al wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan al wujud artinya ada. Dengan demikian wahdatul al wujud berarti kesatuan wujud.[11]
Ajaran sentral ‘ibn arabi adalah tentang wihdatul al-wujud (kesatuan wujud). Meskipun demikian, istilah wihdatul al-wujud yang di pakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu, tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari ibnu taimiyah, tokoh yang wihdatul al-wujud untuk menyebut ajaran sentral ibn ‘arabi, mereka berbeda pendapat dalam memformulasikan pengertian wihdatul al-wujud.
Menurut ibnu taimiyah wihdatul al-wujud adalah penyamaan tuhan dengan alam menurut penjelasannya, orang yang mempunyai paham wihdatul al-wujud mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib al-wujud yang di miliki oleh kholiq juga mukmin al-wujud yang di miliki oleh makhluk, selain itu, orang-orang yang mempunyai paham wahdat al-wujud itu juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud tuhan, tidak ada perbedaan.[12]
2.      Al-Jilli (1365-1417 M)
a.       Biografi singkat al-jili
Nama lengkapnya adalah ‘abdul karim bin ibrahim al-jilil. Ia lahir pada tahun 1365 H. Di jilan (gilan), sebuah propinsi di sebelah selatan kaspia dn wafat pada tahun 1417 M. Nama al-jili di ambil dari tempat kelahirannya di glan. Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari baghad. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui oleh para ahli sejarah, tetapi sebuah sumber mengatakan bahwa ia pernah melakukan perjalanan ke india tahun 1387 M. Kemudian belajar tasawuf di bawah bimbingan Abdul Qadir al-jailani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadariyah yang sangat terkenal. Di samping itu, berguru pula pada syekh syafaruddin sima’il bin ibrahim AL-jabarti di zabid (yaman) pada tahun 1393-14-3 M.
b.      Ajaran-ajaran tasawuf al-jilli
Ajaran tasawuf al-jili yang terpenting adalah paham insan kamil (manusia sempurna). Menurut al-jili insan kamil adalah nuskhah atau copy tuhan. Ada dua pengertian insan kamil yaitu : (1) dalam pengertian konsep pengetahuan tentang manusia yang sempurna; (2) terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama dan sifat-sifat Tuhan kedalam hakikat atau esensi dirinya.
3.      Ibnu Sabi’in (1217-1272 M)
a.       Biografi Ibnu Sabi’in
Nama lengkapnya Ibn Sabi’in adalah ‘Abdul Haqq ibn Ibrahim Muhammad ibn Nashr, seorang sufi yang jufa filosof dari andalusia. Dia terkenal di eropa karena jawaban-jawabannya ata pernyataan federik II, penguasa sicilia. Di dipanggil Ibn Sabi’in dan digelari Quthbuddin. Terkadang, dia dikenal pula dengan Abu Muhammad dan mempunyai asal-usul arab, dan dilahirkan tahun 614 H (1217/1218M) di kawasan murcia. Dia mempelajari bahasa arab dan sastra pada kelompok gurunya. Ia juga mempelajari ilmu-ilmu agama dari mazhab maliki, ilmu-ilmu logika dan filsafat. Dia mengemukakan bahwa di antara guru-gurunya adalah Ibn Dihaq, yang di kenal dengan ilmu al-mir’ah (meniggal tahun 611 H) yang keduanya ahli tentang huruf dan nama. Menurut salah seorang murid Ibn Sabi’in, yang mansyarah kitab risalah al-‘abd hubungan antara Ibn Sabi’in dan gurunya tersebut lebih banyak terjalin lewat kitab dari pada langsung.
b.      Ajaran-ajaran tasawuf Ibnu Sabi’in
Kesatuan mutlak
Ibn sabiin adalah seorang pengasas sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan esensial pahamnya sederhana saja, yaitu wujud adalah suatu alias wujud Allah semata. Wujud-wujud lainnya hanyalah wujud yang satu itu sendiri. Jelasnya, wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari wujud yang satu semata. Dengan demikian, wujud dalam kenyataan hanya satu persoalan yang tetap.

D.    Konsep Wahdatul al-Wujud
Secara bahasa, “wahdat al-wujud” terdiri dari dua kata, yaitu “wahdat” dan “al-wujud”. Wahdat artinya sendiri, tunggal, atau kesatuan, sedangkan al wujud artinya ada. Dengan demikian, wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud (unity of existence).[13]
Konsep Wachdatul-Wujud atau rasa bersatunya manusia dengan Tuhan dibicarakan dalam teks Al-Muntahi, teks Mir’atul-Muchaqqiqin, Syarabul-‘Asyiqin, Tibyan, dan teks Ma’ul-Chayat.[14]

a.       Dalam Teks Al-Muntahi
Di dalam teks Al-Muntahi diuraikan bahwa hubungan antara manusia (maujud) dengan Tuhan (Wujud) itu esa. Artinya, Hamzah memandang bahwa maujud dan Wujud tidak ada perbedaannya sehingga manusia dapat mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan. Karena itu,ia mengatakan dan beriktikad bahwa dirinya adalah “Allah” dan dirinya adalah “yang maha benar atau yang sebenarnya”. Dengan demikian, kunci untuk dapat bertemu dan bersatu dengan Allah Ta’ala (Wahchdatul-Wujud) adalah mengetahui dan mengamalkan sabda Nabi yang berbunyi : man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu. Artinya, “Barang siapa telah mengenal dirinya, maka sesungguhnya ia mengenal Tuhannya”.
b.      Dalam Teks Ma’ul-Chayat
Nuruddin tidak sependapat dan menentang keras iktikad Hamzah. Hal itu dituangkannya di dalam kitab Ma’ul-Chayat. Di dalam Ma’ul-Chayat juga terdapat perkataan dan iktikad Hamzah dengan ungkapan man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu. Artinya, “Barang siapa telah mengenal dirinya, maka sesungguhnya ia telah mengenal Tuhannya”. Makna hadis ini menetapkan keesaan wujud diri seseorang dengan wujud Tuhannya. Antara manusia dengan Tuhan yang terpisah hanyalah pada syariatnya saja sehingga mereka mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu menurut syariatnya adalah Tuhan kita, pada tarekatnya teladan bagi kita, pada hakikatnya se-wujud dengan kita, dan pada makrifatnya mesra dengan kita.(ar-Raniri dalam Ma’ul-Chayat, t.t.:8)








KESIMPULAN
Tasauf falsafi adalah tasawuf yang ajarannya-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Wahdatul Wujud mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya.








DAFTAR PUSTAKA
Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani. 1985. Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani. Bandung: Pustaka
Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. 2008. Tasawuf Islam : Telah Historis dan Perkembangannya. Jakarta: Gaya Media Pratama
Rivay Siregar. 2002. Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, Cetakan: 2. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada
Harun Nasution. 1978. Falsafah dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Sholihin. 2003. tasawuf tematik. Bandung: Pustaka Setia
Sangidu. 2008. Wachdatul Wujud. Yogyakarta: Gama Media


[1] Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani, (Bandung: Pustaka, 1985) ,187.
[2] Ibid.
[3] Ibid, 188.
[4] Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Tasawuf Islam : Telah Historis dan Perkembangannya, (Jakarta: Gaya Media Pratama,  2008),  234.
[5] Ibid.
[6] Ibid, 235.
[7] Rivay Siregar, Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, Cetakan: 2, (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada,2002), 156.
[8] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), 85.
[9] Rivay Siregar, 165.
[10] Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, 193.
[11]Sholihin, tasawuf tematik.(Bandung: Pustaka Setia, 2003), 86.
[12]Ibid, 88.
[13] Solihin, Ibid.
[14] Sangidu, Wachdatul Wujud, (Yogyakarta: Gama Media, 2008), 206.

No comments:

Post a Comment