Sunday, November 30, 2014

Beriman Kepada Allah dengan Keyakinan yang Mendalam



Beriman Kepada Allah
dengan Keyakinan yang Mendalam
اَلسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ
الْحَمْدُ للهِ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْدُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِئَا تِ اَعْمَا لِنَا مَنْ يَهْدِى اللهُ فَلَا مُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ اَشْهَدُاَنْ لَا اِلهَ اِلَا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَن مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمَ صَلِ وَ سَلِمْ عَلَيْهِ وَ عَلى الِهِ وَ اَصْحَا بِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِيْنِ اَمَا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْ صِيْكُمْ وَ اِيَا ىَ اَوَلًا بِتَقْوَى اللهِ
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, nikmat, dan taufik serta hidayahnya sehingga kita bisa berkumpul disini tanpa halangan apapun.
Solawat dan salam tetap terlimpahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah seperti yang kita alami saat ini, dan mudah-mudahan kita mendapat syafaatnya di hari kiamat nanti.
Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah
Marilah kita mengingat Allah, mengingat kebesaran dan keagungan-Nya, kemuliaan-Nya dan kekuasaan-Nya, kekayaan-Nya dan kedermawaan-Nya. Allah adalah pencipta kita yang wajib kita sembah, Allah adalah yang mencukupi segala keperluan hidup kita yang wajib kita sanjung dan puji.
Marilah kita berusaha menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah kepada kita dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya kepada kita, supaya kita memperoleh keridlaan daripada-Nya dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kita seluruhnya wajib bersyukur kepada Allah dengan sebesar-besar rasa syukur, karena telah dipilihkan-Nya untuk kita agama yang haq, yaitu Al islam. Dialah yang telah memasukkan ke dalam hati kita iman yang benar. Tiada suatu anugerah yang manapun yang telah dianugerahkan kepada kita yang melebihi nilai dari iman ini, oleh karenanya kita wajib menjaga dan membina iman dengan penuh kesungguhan.
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, banyak diantara manusia yang hidup di sekitar kita yang masih ragu akan wujud Allah SWT, mereka hanya ingat kepada Tuhan pada waktu mengalami kesulitan saja, bila memperoleh kesenangan hidup dan kelapangan, mereka lupa kepada Tuhan. Bahkan ada pula manusia yang mengingkari akan wujud Allah SWT.
Orang-orang yang mengingkari wujudnya Allah SWT itu, mereka adalah golongan manusia yang tidak menyadari akan kenyataan yang sebenarnya yang mereka hadapi setiap hari, tidak menyadari akan wujud alam semesta yang terbentang luas di hadapan matanya, tidak menyadari pula wujud dirinya dan seluruh aspek kehidupan di sekitarnya yang memungkinkan dia dapat hidup dengan nyaman, tentram dan normal.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekiranya mereka merenung barang sejenak saja pasti akan terbetik dalam hati kecilnya akan kenyataan wujud Allah itu. Karena meyakini akan wujud Allah itu termasuk fithrah insaniyah yang tidak mungkin ditutup mati dari hati setiap manusia. Kalaupun dapat, maka sifatnya hanyalah sementara saja, yang kemudian akan timbul kembali dengan sendirinya ketika kesadaran itu muncul dengan tiba-tiba dan tak terduga oleh pemilik jiwa dan hati itu sendiri.
Kepada umat yang tidak mempercayai akan wujud Allah SWT, Allah mengingatkan mereka dengan firman-Nya :
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,lalu kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Dialah Allah yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit ! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. S 2 Al Baqarah 28-29
            Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah,
            Ayat yang kita bacakan di atas lahirnya ditujukan kepada orang-orang yang tidak mau dan sengaja tidak memperhatikan tentang keadaan dirinya, asal-usulnya dan juga yang tidak mau memikirkan alam semesta, tetapi pada hakekatnya ditujukan kepada semua orang, siapa saja yang tidak mempercayai wujudnya Allah SWT.
            Sesungguhnya diri manusia itu sendiri adalah merupakan suatu bukti yang paling dekat dan yang paling nyata bagi manusia tentang wujud Ilahi. Karena dalam wujud manusia yang kecil dibanding dengan alam yang besar, terdapat unsur-unsur yang juga terdapat pada alam yang besar. Jika bumi tepat kita berpijak ini bergerak karena adanya suatu kekuatan, maka jelas manusia bergerak juga ada suatu kekuatan. Kalau pada larutan terdapat gelombang pasang dan surut, maka pada diri manusia pun terjadi gelombang pasang surut, kalau di bumi terjadi suhu yang berubah-ubah, maka pada diri manusia pun terjadi perubahan suhu, dan demikianlah seterusnya.
            Bahkan pada diri manusia ada jiwa dan ruh, namun pada alam tidak ada jiwa dan ruh. Manusia mempunyai kemampuan merubah alam sekitarnya untuk kepentingan hidupnya, untuk kesenangan dan kebahagiaan hidupnya, dan alam sekeliling manusia tunduk takluk di bawah kemauan manusia.
            Manusia mempunyai kebebasan berkehendak (walaupun terbatas), dia dapat merencanakan sesuatu yang akan datang, dapat mempermudah segala yang sukar, memperindah sesuatu yang tampaknya tiada berguna, memperingan suatu yang berat untuk di angkat, memperdekat jarak yang jauh. Walaupun suaranya kalah keras dengan suara himar, namun manusia dapat memperdengarkan suaranya sampai jarak yang sejauh-jauhnya. Walaupun telinganya sangat kecil jika dibandingkan dengan telinga gajah, namun dengan kemauan yang menimbulkan ilmu pengetahuan, ia dapat mendengar suara yang diperdengarkan dari jarak jutaan kilometer. Bahkan mungkin dengan alat yang dikirim ke planet-planet luar angkasa memungkinkan ia dapat mendengar suara-suara yang terdapat di alam yang jauh itu.
            Akal, kemauan, jiwa, ruh, semangat manusia yang tiada dapat diukur kehebatannya oleh manusia itu sendiri merupakan bukti yang jelas dan terang akan adanya Maha Pencipta dan Perencana. Ia adalah Dzat yang Maha Tunggal, Maha Agung dan Maha Pandai. Kalau Alkhalik itu tidak ada, maka siapakah yang menjadikan manusia yang amat rumit itu ? apakah ia jadi dengan sendirinya ? Kemudian tumbuh dengan sendirinya pula, kemauan dan akal fikirannya ? Berkembang biak sesuai dengan qodrat yang kita saksikan ini pun dengan sendirinya ? Sungguh tiada yang lebih mustahil dari pada mengatakan, bahwa manusia itu terjadi karena kehandaknya sendiri !
            Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
            Pada diri kita ada perut, dan di dalamnya ada yang bernama alat pencerna makanan. Tampaknya ia adalah suatu yang lumrah saja, namun apabila kita pelajari secara mendalam, maka kita akan mengetahui betapa rumitnya pencernaan makanan itu.
            Kita makan apa saja yang kita inginkan, dan minum apa saja yang kita senangi yang melezatkan lidah kita. Minuman dan makanan yang kita masukkan ke dalam rongga perut kita itu mempunyai berbagai macam sifat ; keras, lunak, cair dan mempunyai kadar vitamin yang beraneka macam, protein, lemak dan zat pembakar lainnya. Cobalah kita bayangkan, seluruhnya itu dicerna dalam suatu alat dan suatu wadah yang lembut, diproses dengan cermat dan teliti, kemudian dirubah bantuknya menjadi zat tertentu yang diperlukan oleh tubuh kita. Jumlah keperluan tubuh kita itu sangat banyak, diantaranya adalah berbagai macam vitamin, dan vitamin-vitamin tersebut menurut fungai masing-masing tersalur pada tubuh kita secara tepat.
            Dengan mudah kita akan menyimpulkan bahwa tidak mungkin segalanya itu terjadi dengan sendirinya. Alat kandungan wanita yang dapat menumbuhkan dan melahirkan manusia, dan manusia yang dilahirkannya itu pun nantinya akan dapat melahirkan generasi berikutnya terus-menerus sampai waktu yang tidak kita ketahui dengan pasti kapan berhentinya. Bertambah tinggi ilmu seseorang mengenai suatu hal di alam ini maka semakin kagum dia akan kenyataan yang demikian itu, sehingga akan bertambah keyakinannya kepada adanya Maha Pencipta ala mini.
            Maka pada diri manusia itu sendiri merupakan bukti yang paling nyata tentang wujudnya Allah SWT.
            Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
            Wa shodaqollahul adhim al qo-il “kaifa takfuruuna billaahi wa kuntum amwaatan fa ahyaakum”, mengapa kamu mengkufuri Allah sedangkan kamu tadinya mati, kemudian Allah menghidupkan kamu ....” alangkah anehnya keadaanmu dan kekufuranmu itu, padahal telah jelas bahwa dirimu merupakan suatu bukti yang sangat nyata terhadap wujud Allah, dan betapapun kekufuran dan kecongkaanmu (wahai manusia), dan betapapun lusa ilmu yang kamu miliki, apakah kamu dapat mengingkari suatu kenyataan tentang dirimu sendiri, yang semula kamu adalah bernda yang mati dan tiada berharga sama sekali, kemudian kamu dihidupkan, tumbuh semakin sempurna, melihat, mendengar, merasa dan berfikir? Bukankah ini suatu bukti yang nyata tentang adanya Maha Pencipta? Sungguh manusia itu sangat menganiaya dirinya sendiri dan pengingkar terhadap Allah! Tidak lain kekufurannya itu, hanyalah menunjukkan kebodohannya terhadap wujud dirinya sendiri.
            Alangkah anehnya kedengarannya, manusia mengingkari wujud dirinya sendiri. Ma’asyiral muslimin, yang dimaksudkan dengan mengingkari wujud dirinya sendiri ialah, karena dirinya itu adalah dalil wujud Allah SWT, dan wujud Allah SWT dibuktikan dengan wujud dirinya itu, antara bukti (yaitu diri manusia) dan yang dibuktikan (yaitu wujud Allah) berjalin berkelindan tak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, siapa yang mengingkari wujud Allah berarti dia mengingkari wujud dirinya sendiri.
            Menurut ayat yang kita baca tadi, bahwa manusia itu mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan. Dan yang dimaksudkan dengan mati yang pertama, ialah ketiadaan manusia sebelum adanya sekarang ini, dan yang dimaksukan dengan hidup yang pertama, ialah penciptaan yang pertama, kematian yang kedua ialah kematiand yang ditetapkan bagi setiap manusia, sedangkan hidup yang kedua ialah dihidupkan di akhirat kelak untuk menerima balasan amal, bila baik akan mendapat balasan baik, dan bila buruk akan mendapat balasan buruk. Allah SWT berfirman dalam Al-A’raaf 34:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ
“Apabila datang ajal mereka, maka mereka tidak akan dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya”.
            Sebenarnya problema kematian itu, termasuk problema yang terbesar bagi manusia. Namun sering dilupakan. Sebagian manusia, bila ingat mati, seraya timbullah perasaan takut dalam jiwanya. Takut meninggalkan dunia yang dicintai ini, takut meninggalkan yang dikasihi dan yang mengasihinya. Lebih dari itu semua, takut menghadapi sesuatu keadaan yang tidak diketahuinya sama sekali. Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya, bahkan sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” S 46 Al Ahqaaf 33
            Dan masih banyak lagi firman Allah yang mengingatkan kita terhadap asal kita dan kekuasaan Allah untuk menghidupkan manusia kembali. Sesungguhnya tidak diragukan lagi bila Allah dapat menciptakan manusia dari tidak ada menjadi mahkluk yang demikian hebatnya itu pasti ia mampu menghidupkannya kembali, dan hal ini tentu lebih mudah baginya. Ibarat orang yang mampu membangun gedung pencakar langit, tentu akan ringan baginya untuk membangun sebuah rumah biasa.
            Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah,
            Di dalam ayat tersebut di atas, Allah memperingatkan kepada kita umat manusia dengan kenikmatan yang besar yaitu kenikmatan diwujudkannya kita sebagai makhluk yang terhormat dan diberinya kesempatan atau waktu yang luas untuk dapat menikmati berbagai macam kenikmatan duniawi, baik berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan berbagai macam rizki yang lainnya yang tiada mungkin kita dapat menghitungnya.
            Firman Allah SWT yang kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia : “Dialah Allah yang menciptakan untukmu segala apa yang ada di bumi seluruhnya...”, telah dijadikan dalil oleh para ahli fiqh islam bahwa segala apa yang ada di permukaan bumi kita seluruhnya adalah halal selama belum ada ketentuan syara’ melarangnya. Oleh karena itu manusia tidak berhak mengharamkan sesuatu apapun kecuali dengan dalil yang jelas, baik berdasarkan Al Kitab maupun Assunnah. Allah berfirman :
قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ
“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan halal”. Kataknlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” S 10 Yunus 59.
            Ayat tersebut juga dapat diambil pengertian bahwa bumi ini tidak dapat dimiliki, karena yang dapat dimiliki hanyalah apa yang dihasilkan oleh bumi itu. Sebab Allah SWT berfirman : “Dialah yang telah menciptakan untukmu segala apa yang ada di bumi”. Dan tidak berfirman :”Dialah yang menciptakan bumi untukmu...”
            Kemudian Allah mengingatkan kepada umat manusia terutama kaum yang mengingkari wujud Allah, bahwa alam langit yang amat luas itupun Dia yang menciptakannya. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
            Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah,
            Bila kita resapi makna dari ayat tersebut di atas pastilah keyakinan kita kepada Allah akan semakin mendalam dan kokoh, kemudian amaliyah kita pun akan meningkat. Insya Allah.
            Semoga Allah memberkati kami dan saudara-saudara dari al qur’an yang mulia dan memberikan manfaat segala apa yang terdapat di dalamnya dari ayat-ayat peringatan yang penuh kebijaksanaan. Sekianlah yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah mengampuni dosa kami, dosa saudara-saudaraku dan seluruh kaum muslimin. Marilah kita beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, karena Dialah yang Maha Menerima taubat hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengampun.
بَا رَكَ اللهُ لِى وَ لَكُمْ وَ نَفَعَنِى وَاِيَا كُمْ بِالْا يَا تِ وَالدِكْرِ الْحَكِيْمِ اِنَهُ هُوَ السَمِيْعُ اْلبَصِيْرُ.
وَالسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ

TEGAKKANLAH SHOLAT



TEGAKKANLAH SHOLAT
اَلسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ
Para saudara-saudara yang berbahagia
            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua sehingga pada kesempatan ini kita semua dapat berkumpul di masjid SMAN 1 Slahung tanpa ada aral satu apapun.
            Kedua kalinya sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW yang telah menuntun umat-Nya dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah dan yang kita nanti-nanti syafa’atnya di hari yaumul qiyamah.
            Hadirin yang berbahagia
            Marilah kita mawas diri kita masing-masing, mengadakan perhitungan terhadap kewajiban asasi kita kepada Allah SWT. Apakah sudah kita laksanakan dengan sebaik-baiknya atau belum? Kalaupun sudah kita laksanakan, apakah ada peningkatan atau tidak ? atau malah merosot ? diantara kewajiban asasi kita ialah melaksanakan shalat. Ibadah shalat ini adalah fardhu’ain. Wajib dilaksanakan dimanapun kita berada dan dalam keadaan apapun, kecuali bila seseorang sudah kehilangan kesadarannya atau wanita yang terlarang untuk menunaikan shalat.
            Sungguh shalat ini adalah suatu amalan yang sangat dipentingkan dalam agama, tata caranya secara terperinci telah diajarkan Rasulullah SAW, dan demikian pula waktu-waktunya.
            Allah SWT berfirman dalam Al Quranul karim :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ.
Artinya : “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”.(QS. Al-Mukminun : 1-2 )
            Menurut ayat tersebut telah dijelaskan bahwa orang berbahagia dikalangan kaum mukminin itu ialah orang yang benar-benar mengamalkan ibadah shalat dengan khusyu’, menepati waktu-waktu shalat, memahami makna dan hikmah shalat. Kemudian yang terpenting ialah buah dari pada shalat itu. Apakah shalat kita dapat merubah sifat yang kurang baik menjadi baik.
            Shalat bukan hanya menenangkan jiwa yang resah gelisah, bukan hanya menghilangkan rasa bebas dari pada kewajiban terhadap Allah SWT, tetapi shalat dapat membersihkan kesalahan dan dosa seorang ditambah lagi dengan pahala yang dapat membandingi kesiap siagaan dalam berjihad di jalan Allah.
            Hadirin sekalian yang terhormat
            Bila mandi dengan air yang jernih lima kali sehari dapat membersihkan daki dan kotoran yang berada dikulit tubuh seseorang atau dapat membersihkan jasmaninya, maka shalat 5 kali sehari dapat membersihkan jiwa dan ruh seseorang dari kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa. Sungguh sangat benar dan tepat shalat yang di didikkan islam kepada umatnya, karena disamping tata caranya yang demikian terperinci waktunya pun diatur sedemikian cermatnya sehingga sesuai dengan keadaan manusia itu sendiri dalam mengatur hidupnya. Shalat jelas tidak akan mengganggu orang yang paling sibuk dalam kehidupannya sekalipun. Shalat tidak akan mengganggu kehidupan orang awam, pedagang, negarawan, maupun seniman yang konon tak mau diikat oleh suatu kedisiplinan waktu, malah shalat akan mendidik setiap manusia untuk memiliki pribadi yang tangguh dan kokoh dalam membagi waktu yang sangat berharga dalam hidupnya ini.
            Hadirin yang berbahagia
            Shalat ini adalah amaliah yang sangat fundamental, sehingga dapat dikatakan bila seseorang mampu memelihara shalat ini dengan sebaik-baiknya maka insya Allah seluruh amalnya akan menjadi baik pula dan sebaliknya bila shalatnya morat-marit dan belang-belang maka amalnya juga akan serupa seperti itu.
            Di zaman kita sekarang ini kita lihat adanya hal yang menggembirakan yaitu adanya remaja-remaja yang menanamkan dirinya “remaja masjid”, maka kita lihat ada beberapa masjid yang dipenuhi oleh anak-anak muda melaksanakan ibadah shalat di haru Jum’at dan pada waktu-waktu shalat yang lain. Namun demikian bila kita perhatikan lebih mendalam lagi, maka kita seluruhnya harus merasa sangat prihatin karena jumlah remaja kita yang sebenarnya dengan yang telah memenuhi masjid-masjid dan yang menjalankan shalat masih jauh dari perhitungan yang sebenarnya, yakni masih banyak remaja yang malas untuk melaksanakan ibadah yang sangat penting ini. Bahkan lebih memprihatinkan lagi, karena diantara mereka ada yang tidak merasa wajib lagi melaksanakan ibadah shalat dan seolah-olah tidak merasa berdosa meninggalkannya. Padahal meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dosa besar, bila masih mengakui wajibnya.
            Melihat kenyataan yang demikian itu, maka wajiblah kita semua memikirkan masalah yang sangat fundamental ini. Mereka meringan-ringankan shalat dan meremehkannya, mereka tidak mengerti dan memahami urgensi atau tugas shalat bagi pembinaan pribadi dan jalan yang lurus menuju keberhasilan atau sukses hidup yang diidam-idamkan bagi setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rosul-Nya SAW.
            Mengabaikan masalah agama dan lahirnya mengabaikan masalah shalat, akan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan yang selama ini kita berjerih payah untuk membinanya. Allah memperingatkan kepada manusia dengan firmanNya:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya: “ Maka datanglah yang sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” )QS Maryam: 59)
            Maka tiada jalan lain bagi kita melainkan meneladani jejak langkah para Nabi dan keluarganya dalam mengemban amanat Allah, agar kitapun memperoleh kemuliaan seperti yang telah Allah berikan kepada mereka itu.
            Hadirin yang berbahagia
            Bila kita tidak segera mengambil langkah yang tegas mulai hari ini, maka Allah SWT tetap akan meminta pertanggungjawaban kita di akhirat-Nya kelak dan pasti kita tidak akan mampu mempertanggungjawabkan kelengahan kita itu dengan alasan atau udzur apapun.

            Hadirin yang mulia
            Marilah kita saling mengingatkan dalam persoalan yang penting ini, semoga Allah senantiasa member taufik dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita mampu memenuhi perintah-perintah-Nya dan mampu pula meninggalkan larangan-Nya.
            Demikianlah pidato dari saya ada kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Akhirnya wabillahi taufik wal hidayah.

وَالسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ

Memupuk Iman Kepada Allah



Memupuk Iman Kepada Allah
اَلسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ
Alhamdulillah, alhamdulillahirobil ‘alamin, Assholatu wassalamu ‘ala asrofil ambiyai walmursalin. Wa’ala alihi waashabihi ajma’in. amma ba’du.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang mana telah memberikan rahmat, taufik, serta hidayahnya kepada kita semua sehingga pada kesempatan pagi hari ini kita masih bisa bertatap muka dalam keadaan sehat wal afiat. Amin.
Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar nabi Muhammad SAW yang mana telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah tak lain dan tak bukan dengan lantaran agama islam al-Haq dan yang kita nanti-nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah nanti. Amin.
Hadirin yang dirahmati Allah!
            Kita umat manusia umat islam umat nabi Muhammad SAW wajib beriman kepada Allah dan mengimani rukun iman dalam agama kita yaitu agama islam. Agama islam mengajarkan kebaikan dan mengajarkan hal baik melalui keimanan kita kepada Allah dan Rosulullah.
Hadirin yang berbahagia!
Berbicara iman kita umat islam tentunya sudah tahu maksud dari kata iman itu.
            Iman adalah keyakinan kita kepada Allah SWT. iman kita di ukur dengan ketaqwaan kita, yang dimaksud taqwa itu sendiri adalah menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
            Iman (keyakinan) terhadap adanya Allah SWT , hari pembalasan malaikat-malaikat, kitab-kitab, yang diturunkan oleh Allah melalui para utusannya. Serta iman terhadap adanya nabi-nabi Allah. Iman terhadap adanya Allah SWT, akan menyebabkan manusia merasa bahwa segala gerak gerik kita selalu diawasi dan diketahui oleh zat yang Maha Kuasa itu.
Bahkan tidak hanya perbuatannnya tetapi juga isi hatinya dan semua yang terlintas dalam alam pikiran kita. Itulah salah satu tanda-tanda orang yang benar-benar beriman dan bertaqwa.
            Hadirin yang dimuliakan oleh Allah !
            Allah SWT menjelaskan kepada semua umat manusia bahwa kebaikan itu bukanlah sekedar menghadapkan muka kepada sesuatu arah yang tertentu, baik ke arah timur maupum ke arah barat, tetapi kebaikan yang sebenarnya adalah orang-orang yang benar-benar beriman dan bertaqwa. Yaitu orang-orang yang melakukan kebajikan yang meliputi aktivitas rohani dan jasmani.
Seperti yang dijelaskan dalam sabda Rosulullah
قَالَ النَبِيُ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ الْبِرُ مَا سَكَنَتْ اِلَيْهِ النَفْسُ وَاطْمَأَ نَ اِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ اِلَيْهِ النَفْسُ وَلَمْ يَطْمَـــــِـــنَ اِلَيْهِ الْقَلْبُ
Qholannabiyyu shollallohu ‘alaihi wa sallamalbirru maa syakanat ilaihinnafsu wathma’anna ilaihillqholbu walistmu maa lam tastkun ilaihinnafsyu wa lam yatmainna ilaihillqolbu.
Artinya :“Nabi SAW bersabda: kebajikan ialah sesuatu yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati. Sedang dosa ialah sesuatu yang tidak dapat menentramkan jiwa dan tidak dapat menenangkan hati. (HR. Ahmad)
            Hadirin yang berbahagia
            Dari arti dan penjelasan hadist Nabi tersebut sudah jelas bahwa Allah menganjurkan umat islam untuk membina akhlak dan beriman kepada Allah dan bertaqwa dengan yang Allah tetapkan.
            Maka.... kita umat islam mari kita memupuk keimanan kita denagn bertaqwa dan berbuat kebajikan kepada-Nya. Agar kita beruntung di yaumul qiyamah nanti.
            Hadirin yang dimuliakan oleh Allah !
            Mungkin hanya ini yang dapat saya sampaikan. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan mengambil suri tauladannya. Dan dengan harapan semoga yang saya sampaikan tadi dapat memupuk keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Amin......
            Cukup sekian, apabila ada kata yang kurang berkenan dihati hadirin saya mohon maaf yang setulus-tulusnya. Semoga acara ini memberikan berkah serta menambah ketaqwaan kita. Amin.
Sekian.................... Akhirukalam

وَالسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُه