Sunday, November 30, 2014

Beriman Kepada Allah dengan Keyakinan yang Mendalam



Beriman Kepada Allah
dengan Keyakinan yang Mendalam
اَلسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ
الْحَمْدُ للهِ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْدُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِئَا تِ اَعْمَا لِنَا مَنْ يَهْدِى اللهُ فَلَا مُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ اَشْهَدُاَنْ لَا اِلهَ اِلَا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَن مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمَ صَلِ وَ سَلِمْ عَلَيْهِ وَ عَلى الِهِ وَ اَصْحَا بِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِيْنِ اَمَا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْ صِيْكُمْ وَ اِيَا ىَ اَوَلًا بِتَقْوَى اللهِ
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, nikmat, dan taufik serta hidayahnya sehingga kita bisa berkumpul disini tanpa halangan apapun.
Solawat dan salam tetap terlimpahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah seperti yang kita alami saat ini, dan mudah-mudahan kita mendapat syafaatnya di hari kiamat nanti.
Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah
Marilah kita mengingat Allah, mengingat kebesaran dan keagungan-Nya, kemuliaan-Nya dan kekuasaan-Nya, kekayaan-Nya dan kedermawaan-Nya. Allah adalah pencipta kita yang wajib kita sembah, Allah adalah yang mencukupi segala keperluan hidup kita yang wajib kita sanjung dan puji.
Marilah kita berusaha menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah kepada kita dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya kepada kita, supaya kita memperoleh keridlaan daripada-Nya dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kita seluruhnya wajib bersyukur kepada Allah dengan sebesar-besar rasa syukur, karena telah dipilihkan-Nya untuk kita agama yang haq, yaitu Al islam. Dialah yang telah memasukkan ke dalam hati kita iman yang benar. Tiada suatu anugerah yang manapun yang telah dianugerahkan kepada kita yang melebihi nilai dari iman ini, oleh karenanya kita wajib menjaga dan membina iman dengan penuh kesungguhan.
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, banyak diantara manusia yang hidup di sekitar kita yang masih ragu akan wujud Allah SWT, mereka hanya ingat kepada Tuhan pada waktu mengalami kesulitan saja, bila memperoleh kesenangan hidup dan kelapangan, mereka lupa kepada Tuhan. Bahkan ada pula manusia yang mengingkari akan wujud Allah SWT.
Orang-orang yang mengingkari wujudnya Allah SWT itu, mereka adalah golongan manusia yang tidak menyadari akan kenyataan yang sebenarnya yang mereka hadapi setiap hari, tidak menyadari akan wujud alam semesta yang terbentang luas di hadapan matanya, tidak menyadari pula wujud dirinya dan seluruh aspek kehidupan di sekitarnya yang memungkinkan dia dapat hidup dengan nyaman, tentram dan normal.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekiranya mereka merenung barang sejenak saja pasti akan terbetik dalam hati kecilnya akan kenyataan wujud Allah itu. Karena meyakini akan wujud Allah itu termasuk fithrah insaniyah yang tidak mungkin ditutup mati dari hati setiap manusia. Kalaupun dapat, maka sifatnya hanyalah sementara saja, yang kemudian akan timbul kembali dengan sendirinya ketika kesadaran itu muncul dengan tiba-tiba dan tak terduga oleh pemilik jiwa dan hati itu sendiri.
Kepada umat yang tidak mempercayai akan wujud Allah SWT, Allah mengingatkan mereka dengan firman-Nya :
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,lalu kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Dialah Allah yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit ! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. S 2 Al Baqarah 28-29
            Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah,
            Ayat yang kita bacakan di atas lahirnya ditujukan kepada orang-orang yang tidak mau dan sengaja tidak memperhatikan tentang keadaan dirinya, asal-usulnya dan juga yang tidak mau memikirkan alam semesta, tetapi pada hakekatnya ditujukan kepada semua orang, siapa saja yang tidak mempercayai wujudnya Allah SWT.
            Sesungguhnya diri manusia itu sendiri adalah merupakan suatu bukti yang paling dekat dan yang paling nyata bagi manusia tentang wujud Ilahi. Karena dalam wujud manusia yang kecil dibanding dengan alam yang besar, terdapat unsur-unsur yang juga terdapat pada alam yang besar. Jika bumi tepat kita berpijak ini bergerak karena adanya suatu kekuatan, maka jelas manusia bergerak juga ada suatu kekuatan. Kalau pada larutan terdapat gelombang pasang dan surut, maka pada diri manusia pun terjadi gelombang pasang surut, kalau di bumi terjadi suhu yang berubah-ubah, maka pada diri manusia pun terjadi perubahan suhu, dan demikianlah seterusnya.
            Bahkan pada diri manusia ada jiwa dan ruh, namun pada alam tidak ada jiwa dan ruh. Manusia mempunyai kemampuan merubah alam sekitarnya untuk kepentingan hidupnya, untuk kesenangan dan kebahagiaan hidupnya, dan alam sekeliling manusia tunduk takluk di bawah kemauan manusia.
            Manusia mempunyai kebebasan berkehendak (walaupun terbatas), dia dapat merencanakan sesuatu yang akan datang, dapat mempermudah segala yang sukar, memperindah sesuatu yang tampaknya tiada berguna, memperingan suatu yang berat untuk di angkat, memperdekat jarak yang jauh. Walaupun suaranya kalah keras dengan suara himar, namun manusia dapat memperdengarkan suaranya sampai jarak yang sejauh-jauhnya. Walaupun telinganya sangat kecil jika dibandingkan dengan telinga gajah, namun dengan kemauan yang menimbulkan ilmu pengetahuan, ia dapat mendengar suara yang diperdengarkan dari jarak jutaan kilometer. Bahkan mungkin dengan alat yang dikirim ke planet-planet luar angkasa memungkinkan ia dapat mendengar suara-suara yang terdapat di alam yang jauh itu.
            Akal, kemauan, jiwa, ruh, semangat manusia yang tiada dapat diukur kehebatannya oleh manusia itu sendiri merupakan bukti yang jelas dan terang akan adanya Maha Pencipta dan Perencana. Ia adalah Dzat yang Maha Tunggal, Maha Agung dan Maha Pandai. Kalau Alkhalik itu tidak ada, maka siapakah yang menjadikan manusia yang amat rumit itu ? apakah ia jadi dengan sendirinya ? Kemudian tumbuh dengan sendirinya pula, kemauan dan akal fikirannya ? Berkembang biak sesuai dengan qodrat yang kita saksikan ini pun dengan sendirinya ? Sungguh tiada yang lebih mustahil dari pada mengatakan, bahwa manusia itu terjadi karena kehandaknya sendiri !
            Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
            Pada diri kita ada perut, dan di dalamnya ada yang bernama alat pencerna makanan. Tampaknya ia adalah suatu yang lumrah saja, namun apabila kita pelajari secara mendalam, maka kita akan mengetahui betapa rumitnya pencernaan makanan itu.
            Kita makan apa saja yang kita inginkan, dan minum apa saja yang kita senangi yang melezatkan lidah kita. Minuman dan makanan yang kita masukkan ke dalam rongga perut kita itu mempunyai berbagai macam sifat ; keras, lunak, cair dan mempunyai kadar vitamin yang beraneka macam, protein, lemak dan zat pembakar lainnya. Cobalah kita bayangkan, seluruhnya itu dicerna dalam suatu alat dan suatu wadah yang lembut, diproses dengan cermat dan teliti, kemudian dirubah bantuknya menjadi zat tertentu yang diperlukan oleh tubuh kita. Jumlah keperluan tubuh kita itu sangat banyak, diantaranya adalah berbagai macam vitamin, dan vitamin-vitamin tersebut menurut fungai masing-masing tersalur pada tubuh kita secara tepat.
            Dengan mudah kita akan menyimpulkan bahwa tidak mungkin segalanya itu terjadi dengan sendirinya. Alat kandungan wanita yang dapat menumbuhkan dan melahirkan manusia, dan manusia yang dilahirkannya itu pun nantinya akan dapat melahirkan generasi berikutnya terus-menerus sampai waktu yang tidak kita ketahui dengan pasti kapan berhentinya. Bertambah tinggi ilmu seseorang mengenai suatu hal di alam ini maka semakin kagum dia akan kenyataan yang demikian itu, sehingga akan bertambah keyakinannya kepada adanya Maha Pencipta ala mini.
            Maka pada diri manusia itu sendiri merupakan bukti yang paling nyata tentang wujudnya Allah SWT.
            Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
            Wa shodaqollahul adhim al qo-il “kaifa takfuruuna billaahi wa kuntum amwaatan fa ahyaakum”, mengapa kamu mengkufuri Allah sedangkan kamu tadinya mati, kemudian Allah menghidupkan kamu ....” alangkah anehnya keadaanmu dan kekufuranmu itu, padahal telah jelas bahwa dirimu merupakan suatu bukti yang sangat nyata terhadap wujud Allah, dan betapapun kekufuran dan kecongkaanmu (wahai manusia), dan betapapun lusa ilmu yang kamu miliki, apakah kamu dapat mengingkari suatu kenyataan tentang dirimu sendiri, yang semula kamu adalah bernda yang mati dan tiada berharga sama sekali, kemudian kamu dihidupkan, tumbuh semakin sempurna, melihat, mendengar, merasa dan berfikir? Bukankah ini suatu bukti yang nyata tentang adanya Maha Pencipta? Sungguh manusia itu sangat menganiaya dirinya sendiri dan pengingkar terhadap Allah! Tidak lain kekufurannya itu, hanyalah menunjukkan kebodohannya terhadap wujud dirinya sendiri.
            Alangkah anehnya kedengarannya, manusia mengingkari wujud dirinya sendiri. Ma’asyiral muslimin, yang dimaksudkan dengan mengingkari wujud dirinya sendiri ialah, karena dirinya itu adalah dalil wujud Allah SWT, dan wujud Allah SWT dibuktikan dengan wujud dirinya itu, antara bukti (yaitu diri manusia) dan yang dibuktikan (yaitu wujud Allah) berjalin berkelindan tak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, siapa yang mengingkari wujud Allah berarti dia mengingkari wujud dirinya sendiri.
            Menurut ayat yang kita baca tadi, bahwa manusia itu mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan. Dan yang dimaksudkan dengan mati yang pertama, ialah ketiadaan manusia sebelum adanya sekarang ini, dan yang dimaksukan dengan hidup yang pertama, ialah penciptaan yang pertama, kematian yang kedua ialah kematiand yang ditetapkan bagi setiap manusia, sedangkan hidup yang kedua ialah dihidupkan di akhirat kelak untuk menerima balasan amal, bila baik akan mendapat balasan baik, dan bila buruk akan mendapat balasan buruk. Allah SWT berfirman dalam Al-A’raaf 34:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ
“Apabila datang ajal mereka, maka mereka tidak akan dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya”.
            Sebenarnya problema kematian itu, termasuk problema yang terbesar bagi manusia. Namun sering dilupakan. Sebagian manusia, bila ingat mati, seraya timbullah perasaan takut dalam jiwanya. Takut meninggalkan dunia yang dicintai ini, takut meninggalkan yang dikasihi dan yang mengasihinya. Lebih dari itu semua, takut menghadapi sesuatu keadaan yang tidak diketahuinya sama sekali. Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya, bahkan sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” S 46 Al Ahqaaf 33
            Dan masih banyak lagi firman Allah yang mengingatkan kita terhadap asal kita dan kekuasaan Allah untuk menghidupkan manusia kembali. Sesungguhnya tidak diragukan lagi bila Allah dapat menciptakan manusia dari tidak ada menjadi mahkluk yang demikian hebatnya itu pasti ia mampu menghidupkannya kembali, dan hal ini tentu lebih mudah baginya. Ibarat orang yang mampu membangun gedung pencakar langit, tentu akan ringan baginya untuk membangun sebuah rumah biasa.
            Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah,
            Di dalam ayat tersebut di atas, Allah memperingatkan kepada kita umat manusia dengan kenikmatan yang besar yaitu kenikmatan diwujudkannya kita sebagai makhluk yang terhormat dan diberinya kesempatan atau waktu yang luas untuk dapat menikmati berbagai macam kenikmatan duniawi, baik berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan berbagai macam rizki yang lainnya yang tiada mungkin kita dapat menghitungnya.
            Firman Allah SWT yang kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia : “Dialah Allah yang menciptakan untukmu segala apa yang ada di bumi seluruhnya...”, telah dijadikan dalil oleh para ahli fiqh islam bahwa segala apa yang ada di permukaan bumi kita seluruhnya adalah halal selama belum ada ketentuan syara’ melarangnya. Oleh karena itu manusia tidak berhak mengharamkan sesuatu apapun kecuali dengan dalil yang jelas, baik berdasarkan Al Kitab maupun Assunnah. Allah berfirman :
قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ
“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan halal”. Kataknlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” S 10 Yunus 59.
            Ayat tersebut juga dapat diambil pengertian bahwa bumi ini tidak dapat dimiliki, karena yang dapat dimiliki hanyalah apa yang dihasilkan oleh bumi itu. Sebab Allah SWT berfirman : “Dialah yang telah menciptakan untukmu segala apa yang ada di bumi”. Dan tidak berfirman :”Dialah yang menciptakan bumi untukmu...”
            Kemudian Allah mengingatkan kepada umat manusia terutama kaum yang mengingkari wujud Allah, bahwa alam langit yang amat luas itupun Dia yang menciptakannya. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
            Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah,
            Bila kita resapi makna dari ayat tersebut di atas pastilah keyakinan kita kepada Allah akan semakin mendalam dan kokoh, kemudian amaliyah kita pun akan meningkat. Insya Allah.
            Semoga Allah memberkati kami dan saudara-saudara dari al qur’an yang mulia dan memberikan manfaat segala apa yang terdapat di dalamnya dari ayat-ayat peringatan yang penuh kebijaksanaan. Sekianlah yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah mengampuni dosa kami, dosa saudara-saudaraku dan seluruh kaum muslimin. Marilah kita beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, karena Dialah yang Maha Menerima taubat hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengampun.
بَا رَكَ اللهُ لِى وَ لَكُمْ وَ نَفَعَنِى وَاِيَا كُمْ بِالْا يَا تِ وَالدِكْرِ الْحَكِيْمِ اِنَهُ هُوَ السَمِيْعُ اْلبَصِيْرُ.
وَالسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ

No comments:

Post a Comment