Beriman Kepada Allah
dengan Keyakinan yang Mendalam
اَلسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ
الْحَمْدُ للهِ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْدُ بِاللهِ
مِنْ شُرُورِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِئَا تِ اَعْمَا لِنَا مَنْ يَهْدِى اللهُ فَلَا
مُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ اَشْهَدُاَنْ لَا اِلهَ اِلَا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَن مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمَ صَلِ وَ سَلِمْ
عَلَيْهِ وَ عَلى الِهِ وَ اَصْحَا بِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِيْنِ اَمَا
بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْ صِيْكُمْ وَ اِيَا ىَ اَوَلًا بِتَقْوَى اللهِ
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat
Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, nikmat, dan taufik serta hidayahnya
sehingga kita bisa berkumpul disini tanpa halangan apapun.
Solawat dan salam tetap terlimpahkan pada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman
islamiyah seperti yang kita alami saat ini, dan mudah-mudahan kita mendapat syafaatnya
di hari kiamat nanti.
Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah
Marilah kita mengingat Allah, mengingat kebesaran dan
keagungan-Nya, kemuliaan-Nya dan kekuasaan-Nya, kekayaan-Nya dan
kedermawaan-Nya. Allah adalah pencipta kita yang wajib kita sembah, Allah
adalah yang mencukupi segala keperluan hidup kita yang wajib kita sanjung dan
puji.
Marilah kita berusaha menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah
kepada kita dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya kepada kita, supaya
kita memperoleh keridlaan daripada-Nya dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan
di akhirat.
Kita seluruhnya wajib bersyukur kepada Allah dengan sebesar-besar
rasa syukur, karena telah dipilihkan-Nya untuk kita agama yang haq, yaitu Al
islam. Dialah yang telah memasukkan ke dalam hati kita iman yang benar. Tiada
suatu anugerah yang manapun yang telah dianugerahkan kepada kita yang melebihi
nilai dari iman ini, oleh karenanya kita wajib menjaga dan membina iman dengan
penuh kesungguhan.
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, banyak diantara
manusia yang hidup di sekitar kita yang masih ragu akan wujud Allah SWT, mereka
hanya ingat kepada Tuhan pada waktu mengalami kesulitan saja, bila memperoleh
kesenangan hidup dan kelapangan, mereka lupa kepada Tuhan. Bahkan ada pula manusia
yang mengingkari akan wujud Allah SWT.
Orang-orang yang mengingkari wujudnya Allah SWT itu, mereka adalah
golongan manusia yang tidak menyadari akan kenyataan yang sebenarnya yang
mereka hadapi setiap hari, tidak menyadari akan wujud alam semesta yang
terbentang luas di hadapan matanya, tidak menyadari pula wujud dirinya dan
seluruh aspek kehidupan di sekitarnya yang memungkinkan dia dapat hidup dengan
nyaman, tentram dan normal.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekiranya mereka merenung barang sejenak saja pasti akan terbetik
dalam hati kecilnya akan kenyataan wujud Allah itu. Karena meyakini akan wujud
Allah itu termasuk fithrah insaniyah yang tidak mungkin ditutup mati dari hati
setiap manusia. Kalaupun dapat, maka sifatnya hanyalah sementara saja, yang
kemudian akan timbul kembali dengan sendirinya ketika kesadaran itu muncul
dengan tiba-tiba dan tak terduga oleh pemilik jiwa dan hati itu sendiri.
Kepada umat yang tidak mempercayai akan wujud Allah SWT, Allah
mengingatkan mereka dengan firman-Nya :
كَيْفَ تَكْفُرُونَ
بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ
يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ
اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمٌ.
“Mengapa kamu kafir
kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian
kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,lalu kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
Dialah Allah yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit ! Dan Dia
Maha Mengetahui segala sesuatu”. S 2 Al Baqarah 28-29
Ma’asyiral
muslimin, rahimakumullah,
Ayat
yang kita bacakan di atas lahirnya ditujukan kepada orang-orang yang tidak mau
dan sengaja tidak memperhatikan tentang keadaan dirinya, asal-usulnya dan juga
yang tidak mau memikirkan alam semesta, tetapi pada hakekatnya ditujukan kepada
semua orang, siapa saja yang tidak mempercayai wujudnya Allah SWT.
Sesungguhnya
diri manusia itu sendiri adalah merupakan suatu bukti yang paling dekat dan
yang paling nyata bagi manusia tentang wujud Ilahi. Karena dalam wujud manusia
yang kecil dibanding dengan alam yang besar, terdapat unsur-unsur yang juga
terdapat pada alam yang besar. Jika bumi tepat kita berpijak ini bergerak
karena adanya suatu kekuatan, maka jelas manusia bergerak juga ada suatu kekuatan.
Kalau pada larutan terdapat gelombang pasang dan surut, maka pada diri manusia
pun terjadi gelombang pasang surut, kalau di bumi terjadi suhu yang
berubah-ubah, maka pada diri manusia pun terjadi perubahan suhu, dan
demikianlah seterusnya.
Bahkan
pada diri manusia ada jiwa dan ruh, namun pada alam tidak ada jiwa dan ruh.
Manusia mempunyai kemampuan merubah alam sekitarnya untuk kepentingan hidupnya,
untuk kesenangan dan kebahagiaan hidupnya, dan alam sekeliling manusia tunduk
takluk di bawah kemauan manusia.
Manusia
mempunyai kebebasan berkehendak (walaupun terbatas), dia dapat merencanakan
sesuatu yang akan datang, dapat mempermudah segala yang sukar, memperindah
sesuatu yang tampaknya tiada berguna, memperingan suatu yang berat untuk di
angkat, memperdekat jarak yang jauh. Walaupun suaranya kalah keras dengan suara
himar, namun manusia dapat memperdengarkan suaranya sampai jarak yang
sejauh-jauhnya. Walaupun telinganya sangat kecil jika dibandingkan dengan
telinga gajah, namun dengan kemauan yang menimbulkan ilmu pengetahuan, ia dapat
mendengar suara yang diperdengarkan dari jarak jutaan kilometer. Bahkan mungkin
dengan alat yang dikirim ke planet-planet luar angkasa memungkinkan ia dapat
mendengar suara-suara yang terdapat di alam yang jauh itu.
Akal,
kemauan, jiwa, ruh, semangat manusia yang tiada dapat diukur kehebatannya oleh manusia
itu sendiri merupakan bukti yang jelas dan terang akan adanya Maha Pencipta dan
Perencana. Ia adalah Dzat yang Maha Tunggal, Maha Agung dan Maha Pandai. Kalau
Alkhalik itu tidak ada, maka siapakah yang menjadikan manusia yang amat rumit
itu ? apakah ia jadi dengan sendirinya ? Kemudian tumbuh dengan sendirinya
pula, kemauan dan akal fikirannya ? Berkembang biak sesuai dengan qodrat yang
kita saksikan ini pun dengan sendirinya ? Sungguh tiada yang lebih mustahil
dari pada mengatakan, bahwa manusia itu terjadi karena kehandaknya sendiri !
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah
Pada
diri kita ada perut, dan di dalamnya ada yang bernama alat pencerna makanan.
Tampaknya ia adalah suatu yang lumrah saja, namun apabila kita pelajari secara
mendalam, maka kita akan mengetahui betapa rumitnya pencernaan makanan itu.
Kita
makan apa saja yang kita inginkan, dan minum apa saja yang kita senangi yang
melezatkan lidah kita. Minuman dan makanan yang kita masukkan ke dalam rongga
perut kita itu mempunyai berbagai macam sifat ; keras, lunak, cair dan
mempunyai kadar vitamin yang beraneka macam, protein, lemak dan zat pembakar
lainnya. Cobalah kita bayangkan, seluruhnya itu dicerna dalam suatu alat dan
suatu wadah yang lembut, diproses dengan cermat dan teliti, kemudian dirubah
bantuknya menjadi zat tertentu yang diperlukan oleh tubuh kita. Jumlah keperluan
tubuh kita itu sangat banyak, diantaranya adalah berbagai macam vitamin, dan
vitamin-vitamin tersebut menurut fungai masing-masing tersalur pada tubuh kita
secara tepat.
Dengan
mudah kita akan menyimpulkan bahwa tidak mungkin segalanya itu terjadi dengan
sendirinya. Alat kandungan wanita yang dapat menumbuhkan dan melahirkan
manusia, dan manusia yang dilahirkannya itu pun nantinya akan dapat melahirkan
generasi berikutnya terus-menerus sampai waktu yang tidak kita ketahui dengan
pasti kapan berhentinya. Bertambah tinggi ilmu seseorang mengenai suatu hal di
alam ini maka semakin kagum dia akan kenyataan yang demikian itu, sehingga akan
bertambah keyakinannya kepada adanya Maha Pencipta ala mini.
Maka
pada diri manusia itu sendiri merupakan bukti yang paling nyata tentang
wujudnya Allah SWT.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Wa
shodaqollahul adhim al qo-il “kaifa takfuruuna billaahi wa kuntum amwaatan fa
ahyaakum”, mengapa kamu mengkufuri Allah sedangkan kamu tadinya mati, kemudian
Allah menghidupkan kamu ....” alangkah anehnya keadaanmu dan kekufuranmu itu, padahal
telah jelas bahwa dirimu merupakan suatu bukti yang sangat nyata terhadap wujud
Allah, dan betapapun kekufuran dan kecongkaanmu (wahai manusia), dan betapapun
lusa ilmu yang kamu miliki, apakah kamu dapat mengingkari suatu kenyataan
tentang dirimu sendiri, yang semula kamu adalah bernda yang mati dan tiada
berharga sama sekali, kemudian kamu dihidupkan, tumbuh semakin sempurna,
melihat, mendengar, merasa dan berfikir? Bukankah ini suatu bukti yang nyata
tentang adanya Maha Pencipta? Sungguh manusia itu sangat menganiaya dirinya
sendiri dan pengingkar terhadap Allah! Tidak lain kekufurannya itu, hanyalah
menunjukkan kebodohannya terhadap wujud dirinya sendiri.
Alangkah
anehnya kedengarannya, manusia mengingkari wujud dirinya sendiri. Ma’asyiral
muslimin, yang dimaksudkan dengan mengingkari wujud dirinya sendiri ialah,
karena dirinya itu adalah dalil wujud Allah SWT, dan wujud Allah SWT dibuktikan
dengan wujud dirinya itu, antara bukti (yaitu diri manusia) dan yang dibuktikan
(yaitu wujud Allah) berjalin berkelindan tak dapat dipisahkan. Oleh karena itu,
siapa yang mengingkari wujud Allah berarti dia mengingkari wujud dirinya
sendiri.
Menurut
ayat yang kita baca tadi, bahwa manusia itu mengalami dua kali kematian dan dua
kali kehidupan. Dan yang dimaksudkan dengan mati yang pertama, ialah ketiadaan
manusia sebelum adanya sekarang ini, dan yang dimaksukan dengan hidup yang
pertama, ialah penciptaan yang pertama, kematian yang kedua ialah kematiand
yang ditetapkan bagi setiap manusia, sedangkan hidup yang kedua ialah
dihidupkan di akhirat kelak untuk menerima balasan amal, bila baik akan
mendapat balasan baik, dan bila buruk akan mendapat balasan buruk. Allah SWT berfirman
dalam Al-A’raaf 34:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا
يَسْتَقْدِمُونَ
“Apabila datang ajal mereka, maka mereka
tidak akan dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya”.
Sebenarnya
problema kematian itu, termasuk problema yang terbesar bagi manusia. Namun
sering dilupakan. Sebagian manusia, bila ingat mati, seraya timbullah perasaan
takut dalam jiwanya. Takut meninggalkan dunia yang dicintai ini, takut
meninggalkan yang dikasihi dan yang mengasihinya. Lebih dari itu semua, takut
menghadapi sesuatu keadaan yang tidak diketahuinya sama sekali. Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالأرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى
بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan apakah mereka
tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi
dan tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang
mati? Ya, bahkan sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” S 46 Al
Ahqaaf 33
Dan
masih banyak lagi firman Allah yang mengingatkan kita terhadap asal kita dan
kekuasaan Allah untuk menghidupkan manusia kembali. Sesungguhnya tidak
diragukan lagi bila Allah dapat menciptakan manusia dari tidak ada menjadi
mahkluk yang demikian hebatnya itu pasti ia mampu menghidupkannya kembali, dan
hal ini tentu lebih mudah baginya. Ibarat orang yang mampu membangun gedung
pencakar langit, tentu akan ringan baginya untuk membangun sebuah rumah biasa.
Ma’asyiral
muslimin, rahimakumullah,
Di
dalam ayat tersebut di atas, Allah memperingatkan kepada kita umat manusia dengan
kenikmatan yang besar yaitu kenikmatan diwujudkannya kita sebagai makhluk yang
terhormat dan diberinya kesempatan atau waktu yang luas untuk dapat menikmati
berbagai macam kenikmatan duniawi, baik berupa makanan, minuman, pakaian,
tempat tinggal, kendaraan dan berbagai macam rizki yang lainnya yang tiada
mungkin kita dapat menghitungnya.
Firman
Allah SWT yang kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia : “Dialah Allah yang
menciptakan untukmu segala apa yang ada di bumi seluruhnya...”, telah dijadikan
dalil oleh para ahli fiqh islam bahwa segala apa yang ada di permukaan bumi
kita seluruhnya adalah halal selama belum ada ketentuan syara’ melarangnya.
Oleh karena itu manusia tidak berhak mengharamkan sesuatu apapun kecuali dengan
dalil yang jelas, baik berdasarkan Al Kitab maupun Assunnah. Allah berfirman :
قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ
فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى
اللَّهِ تَفْتَرُونَ
“Katakanlah:
“Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu
jadikan sebagiannya haram dan halal”. Kataknlah: “Apakah Allah telah memberikan
izin kepadamu atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” S 10 Yunus 59.
Ayat
tersebut juga dapat diambil pengertian bahwa bumi ini tidak dapat dimiliki,
karena yang dapat dimiliki hanyalah apa yang dihasilkan oleh bumi itu. Sebab
Allah SWT berfirman : “Dialah yang telah menciptakan untukmu segala apa yang
ada di bumi”. Dan tidak berfirman :”Dialah yang menciptakan bumi untukmu...”
Kemudian
Allah mengingatkan kepada umat manusia terutama kaum yang mengingkari wujud
Allah, bahwa alam langit yang amat luas itupun Dia yang menciptakannya. Dan Dia
Maha Mengetahui segala sesuatu.
Ma’asyiral
muslimin, rahimakumullah,
Bila
kita resapi makna dari ayat tersebut di atas pastilah keyakinan kita kepada
Allah akan semakin mendalam dan kokoh, kemudian amaliyah kita pun akan
meningkat. Insya Allah.
Semoga
Allah memberkati kami dan saudara-saudara dari al qur’an yang mulia dan
memberikan manfaat segala apa yang terdapat di dalamnya dari ayat-ayat
peringatan yang penuh kebijaksanaan. Sekianlah yang dapat kami sampaikan.
Semoga Allah mengampuni dosa kami, dosa saudara-saudaraku dan seluruh kaum
muslimin. Marilah kita beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya,
karena Dialah yang Maha Menerima taubat hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengampun.
بَا رَكَ اللهُ لِى وَ لَكُمْ وَ نَفَعَنِى وَاِيَا كُمْ بِالْا يَا
تِ وَالدِكْرِ الْحَكِيْمِ اِنَهُ هُوَ السَمِيْعُ اْلبَصِيْرُ.
وَالسَلَا مُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كاَ تُهُ
No comments:
Post a Comment