Friday, January 6, 2017

Makalah sejarah peradaban islam

Gejolak Peradapan Islam pada Masa Perang Salib

PENDAHULUAN
-Latar Belakang
Perang Salib berlangsung selama 2 abad, antara abad ke-11 dan ke-13, yang terjadi sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap umat Islam di Asia yang dianggap sebagai pihak penyerang. Disebut Perang Salib karena ekspedisi militer Kristen mempergunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerussalem) dari tangan-tangan orang Islam.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Perang Salib, faktor penyebab terjadinya Perang Salib, serta dampak dari terjadinya Perang Salib tersebut.
-Rumusan Masalah
Apakah Perang Salib itu?
Apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya Perang Salib?
Apa saja rangkaian Perang Salib?
Apa saja dampak yang ditimbulkan dari Perang Salib?


PEMBAHASAN
A. Pengertian Perang Salib
Perang Salib berasal dari Bahasa Arab, yaitu حـر كـة  yang berarti suatu gerakan  atau   barisan, dan صـلـيـبـيـة     yang berarti kayu palang, tanda silang (dua batang kayu yang bersilang). Jadi Perang Salib adalah suatu gerakan (dalam bentuk barisan) dengan memakai tanda salib untuk menghancurkan umat Islam.
Sedangkan dalam Ensiklopedi Islam, Perang Salib ialah gerakan kaum Kristen di Eropa yang memerangi umat Islam di Palestina secara berulang-ulang, mulai dari abad XI sampai abad XIII M. untuk membebaskan  Bait al-Maqdis dari kekuasaan Islam dan bermaksud menyebarkan agama  dengan mendirikan gereja dan kerajaan Latin di Timur. Dikatakan salib, karena setiap orang Eropa yang ikut bertempur mengenakan tanda salib di dada kanan sebagai bukti kesucian cita-cita mereka.
Terhadap pengertian ini, diperkuat lagi oleh Philip K. Hitti  bahwa Perang Salib itu adalah perang keagamaan  selama hampir dua abad yang terjadi sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap umat Islam di Asia yang dianggap sebagai pihak penyerang. Perang ini terjadi karena sejak tahun 632 M. (Nabi saw. wafat)  sampai meletusnya Perang Salib, sejumlah kota-kota penting dan tempat suci umat Kristen telah diduduki umat Islam seperti Suriah, Asia Kecil, Spanyol dan Sicilia. Perang tersebut merupakan suatu ekspedisi militer dan terorganisir untuk merebut kembali tempat suci di Palestina.
Dari beberapa pengertian di atas, dapatlah dipahami bahwa Perang Salib  adalah perang yang dilakukan oleh ummat Kristen Eropa dengan mengerahkan umatnya secara terorganisir yang bersifat militer, dan menurut mereka, Perang Salib ini merupakan perang suci untuk merebut kembali Bait al-Maqdis di Yerussalem dari tangan umat Islam.
B. Faktor-faktor Penyebab Perang Salib
Persentuhan awal bangsa Eropa dengan dunia Islam bermula sejak adanya kebijakan-kebijakan ekspansi negara-negara Islam baru, yang terjadi pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW. pada tahun 632 M.
Di antara faktor-faktor tersebut antara lain:
Perang Salib terjadi karena adanya konflik lama antara Timur dengan Barat yang dalam hal ini adalah antara orang-orang Islam dengan orang-orang Kristen. Konflik tersebut disebabkan keinginan masing-masing pihak untuk saling menguasai.
Peristiwa Manzikert menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan perang Salib. Kebencian itu bertambah setelah Dinasti Seljuq di Syria (1078-1117) dapat merebut Bait al-Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir (909-1171). Penguasa Dinasti Seljuq menetapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana.
Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Yerusalem yang semakin bergairah pada abad II dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Karena Yerusalem dan Palestina berada di bawah kekuasaan Turki, tidak jarang para jemaah Kristen mendapat perlakuan yang tidak baik.
Pada masa menjelang Perang Salib itu, Eropa Kristen ditandai oleh kekacauan feodalisme. Raja dan pangeran terlibat perang antara satu dengan yang lain. Sehubungan dengan itu, orang Kristen dengan dukungan Paus berusaha memanfaatkan semangat perang internal agama menjadi perang antar agama.
Selain itu, Laut Tengah yang menjadi jalur perdagangan internasional terpenting dikuasai oleh orang-orang Islam, sehingga lalu lintas perdagangan Kristen dari kawasan Eropa terhambat. Dengan demikian, perang Salib salah satunya dipicu karena adanya persaingan ekonomi.
Rangkaian Perang Salib
Perang antara Islam dan Kristen ini kemudian dikenal dengan nama Perang Salib yang terjadi dalam tiga periode.
Periode pertama
Pada musim semi tahun 1095, sebanyak 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey (1061-1100), Bohemond I (1057-1111) dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldwin I (1058-1118) sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait al-Maqdis (15 Juli 1099 M) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya Godfrey. Setelah penaklukkan Bait al-Maqdis itu, tentara salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104), Tripoli (1109) dan kota Tyre (1124 M). Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV dengan rajanya bernama Raymond.
Periode kedua
Imaduddin Zanki, penguasa Monshul dan Irak, berhasil menaklukkan kembali Aleppo, Humaymah dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun, dia wafat tahun 1146 M. Tugasnya dilanjutkan oleh puteranya, Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.
Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis, LouisVII (1121-1180) dan raja Jerman, Condrad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syiria. Akan tetapi gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Condrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Nuruddin wafat tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalah Al-Din al-Ayyubi (1134-1193) yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir  tahun 1175 M. Hasil peperangan Shalah al-Din yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M dalam perang Hiththin. Dengan demikian, kerajaan Latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir.
Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick (I) Barbarossa (1123-1190), raja Jerman, Richard the Lion-Hearted (1157-1199), raja Inggris, dan Philip Augustus (1165-1223), raja Perancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. Meskipun mendapat tantangan berat dari Salah al-Din, namun mereka berhasil menguasai Akka yang kemudian dijadikan ibukota kerajaan Latin. Akan tetapi mereka tidak berhasil memasuki Palestina. Pada tanggal 2 Nopember 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Shalahuddin yang disebut dengan Shulh al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan diganggu.
Periode ketiga
Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II (1194-1250). Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari Dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik al-Khamil membuat perjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain, Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum Muslimin di sana dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syiria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin tahun 1247 M, di masa pemerintahan al-Malik al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik (1250-1517) yang menggantikan posisi Dinasti Ayyubiyah, pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin, pada tahun 1291 M.
Demikianlah, Perang  Salib yang bekobar di Timur. Perang ini tidak terhenti di Barat, di Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana.
Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisi demikian, mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat ‘Abbasiyah di Baghdad.
C. Dampak Perang Salib
Perang Salib menimbulkan beberapa akibat penting dalam sejarah dunia karena membawa Eropa ke dalam kontak langsung dengan dunia Islam. Melalui kontak inilah hubungan antara Barat dengan Timur terjalin.
Perang Salib menambah kepentingan Eropa di lapangan perniagaan dan perdagangan. Sebagai hasil dari Perang Salib, orang Eropa dapat mempelajari dan memodifikasi serta mengaplikasi beberapa temuan penting yang telah dihasilkan oleh orang Islam pada masa-masa sebelumnya.
Akibat yang paling tragis dari Perang Salib adalah hancurnya peradaban Byzantium yang telah dikuasai oleh umat Islam sejak Perang Salib keempat hingga pada masa kekuasaan Turki Usmani tahun 1453. Akibatnya, seluruh kawasan pendukung kebudayaan Kristen Orthodox menghadapi kehancuran yang tidak terelakkan, yang dengan sendirinya impian Paus Urban II untuk unifikasi dunia Kristen di bawah kekuasaan paus menjadi pudar.
Perubahan nyata yang merupakan akibat dari proses panjang Perang Salib ialah bahwa bagi Eropa, mereka sukses melaksanakan alih berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkempang pesat di dunia Islam, sehingga turut berpengaruh terhadap peningkatan kualitas peradaban bangsa Eropa beberapa abad sesudahnya. Mereka belajar dari kaum muslimin berbagai teknologi perindustrian dan mentransfer berbagai jenis industri yang mengakibatkan terjadinya perubahan besar-besaran di Eropa, sehingga peradaban Barat sangat diwarnai oleh peradaban Islam dan membuatnya maju dan berada di puncak kejayaan.
Bagi umat Islam, Perang Salib tidak memberikan kontribusi bagi pengembangan kebudayaan, malah sebaliknya kehilangan sebagian warisan kebudayaan. Selain itu, juga menghabiskan asset kekayaan bangsa dan mengorbankan putera terbaik.
Walaupun demikian, di sisi lain Perang salib membuktikan kemenangan militer Islam di abad pertengahan, yang bukan hanya mampu mengusir Pasukan Salib, tetapi juga pada masa Turki Usmani mereka mampu mencapai semenanjung Balkan (abad ke-14-15) dan mendekati gerbang Wina (abad ke-16 dan 17), sehingga hanya Spanyol dan pesisir Timur Baltik yang tetap berada di bawah kekuasaan Kristen.


KESIMPULAN
Perang Salib adalah suatu gerakan (dalam bentuk barisan) dengan memakai tanda salib untuk menghancurkan umat Islam.
Faktor-faktor penyebab Perang Salib:
Adanya konflik lama antara Timur dengan Barat.
Peristiwa Manzikert yang menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam.
Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Yerusalem yang semakin bergairah.
Adanya kekacauan feodalisme.
Adanya persaingan ekonomi.
Rangkaian Perang Salib:
Periode pertama
Periode kedua
Periode ketiga
Dampak Perang Salib:
Terjalin hubungan antara Barat dengan Timur.
Menambah kepentingan Eropa di lapangan perniagaan dan perdagangan.
Hancurnya peradaban Byzantium yang telah dikuasai oleh umat Islam sejak Perang Salib keempat hingga pada masa kekuasaan Turki Usmani.
Bagi Eropa, mereka sukses melaksanakan alih berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkempang pesat di dunia Islam.
Umat Islam kehilangan sebagian warisan kebudayaan.


DAFTAR PUSTAKA
Ali. 2003. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern)
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1997. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid IV. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve
Hillenbrand, Carole. 2007. Perang Salib: Sudut Pandang Islam, tej. Heryadi. Jakarta
Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Kamus Arab Indonesia Cet. XIV. Yogyakarta: Pustaka Progressif
Rofiq, Choirul. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Ponorogo: Stain Po Press
Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

No comments:

Post a Comment