PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perkembangan
ilmu pengetahuan saat ini sangatlah pesat, terutama sekarang sudah terdapat
kajian ilmu mengenai alam semesta. Alam semesta dulunya merupakan hal yang
sulit untuk dipahami manusia serta penuh dengan hal yang misterius. Namun
sekarang dengan perkembangan tehknologi, manusia mampu untuk memecahkan
pertanyaan-petanyaan yang dulu hanya dijawab seadanya.
Alam
semesta dan tata surya dulu merupakan hal yang dapat dikatakan seperti dunia
mimpi bagi manusia, kini dapat kita pelajari dan kita ketahui dengan mudah.
Untuk pembahasan mengenai tata surya akan penulis uraiakan dalam makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah tata surya itu dan bagaimana asal usulnya?
2.
Benda-benda langit apa sajakah yang merupakan penyusun utama tata
surya?
PEMBAHASAN
A.
Tata Surya
1.
Pengertian Tata Surya
Tata Surya
adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut
Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek
tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit
berbentuk elips, lima planet kerdil/ katai, 173 satelit alami yang telah
diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.[1]
Tata Surya
merupakan sistem yang terdiri atas matahari dan benda angkasa yang
mengelilinginya. Karena diedari oleh benda-benda langit di sekelilingnya,
benda-benda langit tersebut mempunyai lintasan edar tertentu yang berbentuk
elips dengan matahari terletak pada salah satu fokusnya. Peredaran benda langit
mengelilingi matahari disebut revolusi. Adapun bidang edar yang terbentuk oleh
bumi disebut eliptika.[2]
2.
Asal Usul Tata Surya
Banyak
hipotesis tentang asal usul Tata Surya telah dikemukakan para ahli, beberapa di
antaranya adalah:[3]
a.
Hipotesis Nebula
Hipotesis Nebula
atau teori kabut pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg pada tahun
1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant pada tahun 1775. Hipotesis serupa
juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Kemudian
hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Leplace.
Hipotesi ini
mengemukakan bahwa pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut
ini terbentuk dari debu, es dan gas yang disebut nebula, serta unsur gas yang
sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu
menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas dan akhirnya
mejadi bintang raksasa atau biasanya disebut matahari. Matahari raksasa terus
menyusut dan berputar semakin cepat. Cincin-cincin gas dan es terlontar ke
sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring
dengan penurunan suhunya dan membentuk planet-planet.
b.
Hipotesis Planetisimal
Thomas C.
Chamberlin dan Forest R. Moulton mengemukakan hipotesis ini pertama kali pada
tahun 1900. Hipotesis ini mengatakan tata surya terbentuk akibat adanya bintang
lain yang lewat cukup dekat dengan matahari, pada masa pembentukan matahari.
Karena jarak yang dekat tersebut, kemudian terjadi benjolan pada permukaan
matahari, dan bersama dengan proses internal matahari, bintang lain tersebut
manarik materi berulang-ulang dari matahari. Efek gravitasi bintang
mengakibatkan terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari.
Sementara sebagian besar materi tertarik kembali, sebagian lain tetap berada di
orbit, mendingin dan memadat, menjadi benda-benda berukuran kecil yang disebut
planetesimal dan beberapa yang besar sebagai protoplanet. Objek-objek tersebut
bertabrakan dari waktu ke waktu dan membentuk planet dan bulan, sedangkan sisa
materi lainnya menjadi komet dan asteroid.
c.
Hipotesis Pasang Surut Bintang
Hipotesis
pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans pada tahun 1917.
Menurut hipotesis ini, planet terbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada
matahari. Keadaan yang hampir bertabrakan ini menyebabkan tertariknya sejumlah
besar materi dari matahari dan bintang lain tersebut oleh gaya pasang surut
bersama mereka, yang kemudain terkondensasi menjadi planet. Akan tetapi,
astronom Harold Jeffreys tahun 1929 menyebutkan bahwa tabrakan itu tidak
mungkin terjadi. Demikian astronom Henry Norris Russell mengemukakan keberatannya
atas hipotesis tersebut.
d.
Hipotesis Kondensasi
Hipotesis
kondensasi dikemukakan tahun 1950 oleh astronom Belanda, G.P. Kuiper.
Menurutnya, tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar
membentuk cakram raksasa.
e.
Hipotesis Bintang Kembar
Fred
Hoyle pada tahun 1956 mengemukakan bahwa dahulu tata surya berupa dua bintang
yag hampir sama ukurannya dan letaknya pun berdekatan, kemudian salah satunya
meledak menjadi serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu terperangkap oleh
gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya.
B.
Penyusun Utama Tata Surya
1.
Matahari
Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan
merupakan komponen utama sistem Tata Surya. Bintang ini berukuran 332.830 massa
bumi. Massa yang besar ini menyebabkan kepadatan inti yang cukup besar untuk
bisa mendukung kesinambungan fusi nuklir dan menyemburkan sejumlah energi yang
dahsyat. Kebanyakan energi ini dipancarkan ke luar angkasa dalam bentuk radiasi
eletromagnetik, termasuk spektrum optik. Matahari dikategorikan ke dalam
bintang kerdil kuning (tipe G V) yang berukuran tengahan, tetapi nama ini bisa
menyebabkan kesalahpahaman, karena dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada
di dalam galaksi Bima Sakti, Matahari termasuk cukup besar dan cemerlang.
Bintang diklasifikasikan dengan diagram Hertzsprung-Russell, yaitu sebuah
grafik yang menggambarkan hubungan nilai luminositas sebuah bintang terhadap
suhu permukaannya.
Bintang-bintang yang mengikuti pola ini
dikatakan terletak pada deret utama, dan Matahari letaknya persis di tengah
deret ini. Akan tetapi, bintang-bintang yang lebih cemerlang dan lebih panas
dari Matahari adalah langka, sedangkan bintang-bintang yang lebih redup dan
dingin adalah umum. Dipercayai bahwa posisi Matahari pada deret utama secara
umum merupakan "puncak hidup" dari sebuah bintang, karena belum
habisnya hidrogen yang tersimpan untuk fusi nuklir. Saat ini Matahari tumbuh
semakin cemerlang. Pada awal kehidupannya, tingkat kecemerlangannya adalah
sekitar 70 persen dari kecermelangan sekarang.[4]
Matahari merupakan bintang yang sangat
besar, dengan garis tengah sekitar 109 kali garis tengah bumi. Namun, masih
terdapat bintang lain yang lebih besar dari pada matahari yaitu bintang Antares
atau bintang merah yang bersinar terang. Garis tengah bintang Antares sekitar
400 kali garis tengah matahari. Bintang Antares letaknya sangat jauh dari bumi,
dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Menurut para ahli, pada matahari
terdapat noda hitam yang disebabkan oleh perbedaan suhu di permukaan matahari.
Noda hitam ini menandakan kawasan yang “kurang panas” di bandingkan kawasan
lainnya. Adakalanya cahaya matahari tidak dapat sampai ke permukaan bumi karena
terhalang oleh bulan yang mengelilingi bumi. Keadaan ini disebut gerhana
matahari.
Secara harfiah, gerhana dapat diartikan
sebagai penggelapan cahaya dari suatu benda langit oleh benda langit lainnya.
Kita dapat melihat benda-benda langit dalam tata surya karena benda-benda
tersebut dapat memantulkan cahaya matahari. Pada saat benda-benda langit
menerima cahaya dari matahari, benda-benda itu membentuk bayang-bayang kerucut
yang memanjang menjauhi matahari. Daerah bayang-bayang yang paling gelap
dinamakan umbra, sedangkan daerah bayang-bayang yang samar dinamakan penumbra.
Gerhana matahari terjadi apabila kedudukan bulan terletak di antara bumi dan
matahari.
Ada tiga jenis gerhana matahari, yaitu
gerhana matahari total, gerhana matahari sebagian, serta gerhana matahari cincin.
Gerhana matahari total terjadi apabila matahari tertutup sepenuhnya oleh bulan.
Gerhana matahari total merupakan suatu kejadian yang sangat indah, namun
membahayakan mata. Ketika semua cahaya matahari sudah seluruhnya tertutup oleh
bulan dan yang terlihat hanya coronanya saja, maka aman bagi kita untuk
melihatnya. Tetapi selama gerhana matahari masih berlangsung, maka apabila kita
melihat langsung ke atas dapat merusak retina mata kita.
Gerhana matahari total terjadi pada
daerah umbra, sedangkan gerhana matahari cincin terjadi pada daerah penumbra.
Apabila jarak antara bumi dengan matahari lebih jauh dibandingkan penumbra,
maka daerah dalam perpanjangan penumbra akan mengalami gerhana matahari
sebagian.
Matahari terdiri dari beberapa lapisan,
yaitu korona, kromosfir, fotosfir, dan protuberens. Korona merupakan lapisan
matahari paling luar yang mengelilingi kromosfir. Lapisan korona hanya nampak
pada saat terjadi gerhana matahari total yang berwarna putih berkilau.
Kadang-kadang korona terlihat seperti bunga matahari.
Kromosfir merupakan lapisan gas tebal
yang mengelilingi fotosfir. Sama halnya seperti korona, kromosfir juga hanya
nampak pada saat terjadi gerhana matahari total dengan warna merah. Fotosfir
merupakan lapisan permukaan matahari yang nampak bulat putih dan menyilaukan.
Protuberens merupakan lapisan yang berada di sekeliling kromosfir. Protuberens
ini berupa kepulan-kepulan gas seperti lidah api.[5]
2.
Planet
Berdasarkan kriteria IAU, planet adalah benda langit yang:
a.
Mengorbit Matahari
b.
Bentuk fisiknyanya cenderung bulat
c.
Orbitnya bersih dari keberadaan benda angkasa lain
Planet-planet yang berada dalam sistem Tata Surya adalah : Merkurius,
Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Sejak tahun 2006,
Pluto tidak dikategorikan lagi sebagai planet karena kriteria ke-3 dari tiga
kriteria di atas tidak dipenuhi oleh Pluto. Pluto memiliki orbit yang memotong
orbit Neptunus sehingga dianggap orbit Pluto belum bersih dari benda angkasa
lain.[6]
3.
Planet Kerdil
Planet-kerdil (Dwarf Planet) merupakan kategori baru dalam
keanggotaan tata surya berdasarkan resolusi IAU tahun 2006. Sebuah benda
angkasa dikatakan planet kerdil jika:
a.
Mengorbit Matahari
b.
Bentuk fisiknya cenderung bulat
c.
Orbitnya belum bersih dari keberadaan benda angkasa lain.
d.
Bukan merupakan satelit
Contoh dari planet kerdil ini adalah Pluto dan Ceres yang
orbitnya berada di lingkungan asteroid. Ceres tadinya dikategorikan sebagai
salah satu asteroid terbesar yang berada di sabuk asteroid. Sejak tahun 2006,
Ceres dikategorikan sebagai planet kerdil karena memenuhi kriteria di atas.[7]
4.
Satelit
Satelit adalah benda langit pengiring planet. Satelit senantiasa
mengiringi dan berputar terhadap planet pusatnya.
Berdasarkan cara terbentuknya satelit dapat dibedakan menjadi 2
bagian, yaitu:
a.
Satelit Alam, adalah satelit yang terbentuk karena adanya
peristiwa alam bersamaan dengan terbentuknya planet. Contoh: Bulan,
sebagai satelit alam Bumi; Titan, sebagai satelit alam Saturnus.
b.
Satelit Buatan, adalah satelit yang dibuat oleh manusia yang
digunakan untuk tujuan tertentu. Contoh: Satelit cuaca, satelit
komunikasi, satelit mata-mata, dan sebagainya.[8]
5.
Asteroid
Asteroid secara
umum adalah objek tata surya yang terdiri atas batuan dan mineral logam beku.
Dalam tata surya diperkirakan ada lebih dari 100.000 asteroid. Asteroid
terbesar bernama Ceres dengan garis tengah kurang lebih 685 km, namun setelah
tahun 2006 Ceres diklarifikasi lebih lanjut dan kemudian dinyatakan sebagai
anggota dari Planet Kerdil. Asteroid lainnya adalah Gaspra, Ida, Vesta, dan
Hygeia.
Asteroid banyak
dijumpai diantara lintasan Mars dan Jupiter. Diantara Mars dan Jupiter ini
terdapat daerah yang disebut Sabuk Asteroid, yang merupakan kumpulan batuan
metal dan mineral. Kebanyakan asteroid ini hanya berdiameter beberapa kilometer
dan beberapa memiliki diameter 100 km atau lebih. Sabuk asteroid utama terletak
diantara orbit Mars dan Jupiter, berjarak antara 2,3 hingga 3,3 AU, diduga
merupakan sisa dari formasi tata surya yang gagal.[9]
6.
Komet
Komet adalah
bintang pengembara, yang melintasi Matahari sambil melintas orbit elips yang
sangat panjang. Komet terbentuk dari gas, debu, dan bongkahan es sisa
penciptaan tata surya. Seperti pada umumnya, komet akan terlihat lebih bercahaya
ketika posisi mereka lebih dekat dengan matahari, karena radiasi matahari
mendidihkan partikel es dan debu di inti komet. Material berbentuk awan ini
disebut kepala (coma) kadang-kadang memiliki ekor, terlihat bercahaya karena
memantulkan bentuk sinar matahari. Panjang ekor komet bisa mancapai lebih dari
100 juta kilometer. Sambil mengelilingi orbit yang oval panjang, kepala komet
selalu menghadap Matahari.
Beberapa komet yang sudah dikenal
adalah Komet Hyakutake, Komet Halley, Komet Encke (secara resmi dinamai
2P/Encke), Komet West, Komet Ikeya-Seki, Comet Kohoutek, Komet Shoemaker-Levy 9
(SL9, secara resmi disebut D/1993 F2), dan Komet Biela (sebutan resmi:
3D/Biela).[10]
KESIMPULAN
A.
Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang
yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya.
Banyak hipotesis tentang asal usul Tata Surya
1.
Hipotesis Nebula
2.
Hipotesis Planetisimal
3.
Hipotesis Pasang Surut Bintang
4.
Hipotesis Kondensasi
5.
Hipotesis Bintang Kembar
B.
Penyusun Utama Tata Surya
1.
Matahari
2.
Planet
3.
Planet Kerdil
4.
Satelit
5.
Asteroid
6.
Komet
DAFTAR PUSTAKA
Adha Kumala Dewi. Makalah
Tata Surya. dewimarzuki.blogspot.co.id
Anwar, Syaiful. Makalah tentang Tata Surya. Syaiful-Rahayu.com
Jumhana, Nana. Alam Semesta dan Tata Surya. file.upi.edu/…IPA…/UNIT_6.pdf
Maulana, Mochamad Erewin dan Yamin W. Ono. Modul Tata Surya.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Pratama, Yuga. Makalah Tata Surya. linkbeep.blogspot.co.id
Wikipedia. Tata Surya.
id.m.wikipedia.org/wiki/Tata_Surya
[1] Wikipedia, Tata
Surya, id.m.wikipedia.org/wiki/Tata_Surya, di akses tanggal 24
Oktober 2016 pukul 12:30.
[2] Adhakumaladewi,
Makalah Tata Surya, dewimarzuki.blogspot.co.id/2011/11/tata-surya.html,
diakses tanggal 24 Oktober 2016 pukul 12:30.
[3] Wikipedia,
Ibid.
[4] Yuga Pratama, Makalah
Tata Surya, linkbeep.blogspot.co.id, diakses tanggal 26 Oktober 2016
pukul 14:00.
[5] Nana Jumhana, Alam
Semesta dan Tata Surya, file.upi.edu/…IPA…/UNIT_6.pdf , diakses
tanggal 26 Oktober 2016 pukul 14:30, hal 21-24.
[6] Mochamad
Erewin Maulana dan Yamin W. Ono, Modul Tata Surya (Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta), 7.
[7] Ibid,…
8.
[8] Ibid,…
[9] Syaiful Anwar,
Makalah tentang Tata Surya, Syaiful-Rahayu.com, diakses tanggal
28 Oktober 2016 pukul 10:00.
[10] Ibid,…
No comments:
Post a Comment