Tuesday, January 10, 2017

Makalah tata surya



PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini sangatlah pesat, terutama sekarang sudah terdapat kajian ilmu mengenai alam semesta. Alam semesta dulunya merupakan hal yang sulit untuk dipahami manusia serta penuh dengan hal yang misterius. Namun sekarang dengan perkembangan tehknologi, manusia mampu untuk memecahkan pertanyaan-petanyaan yang dulu hanya dijawab seadanya.
Alam semesta dan tata surya dulu merupakan hal yang dapat dikatakan seperti dunia mimpi bagi manusia, kini dapat kita pelajari dan kita ketahui dengan mudah. Untuk pembahasan mengenai tata surya akan penulis uraiakan dalam makalah ini.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apakah tata surya itu dan bagaimana asal usulnya?
2.      Benda-benda langit apa sajakah yang merupakan penyusun utama tata surya?

   

PEMBAHASAN
A.  Tata Surya
1.    Pengertian Tata Surya
Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/ katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.[1]
Tata Surya merupakan sistem yang terdiri atas matahari dan benda angkasa yang mengelilinginya. Karena diedari oleh benda-benda langit di sekelilingnya, benda-benda langit tersebut mempunyai lintasan edar tertentu yang berbentuk elips dengan matahari terletak pada salah satu fokusnya. Peredaran benda langit mengelilingi matahari disebut revolusi. Adapun bidang edar yang terbentuk oleh bumi disebut eliptika.[2]
2.    Asal Usul Tata Surya
Banyak hipotesis tentang asal usul Tata Surya telah dikemukakan para ahli, beberapa di antaranya adalah:[3]
a.    Hipotesis Nebula
Hipotesis Nebula atau teori kabut pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg pada tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Kemudian hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Leplace.
Hipotesi ini mengemukakan bahwa pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es dan gas yang disebut nebula, serta unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas dan akhirnya mejadi bintang raksasa atau biasanya disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat. Cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet-planet.
b.    Hipotesis Planetisimal
Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton mengemukakan hipotesis ini pertama kali pada tahun 1900. Hipotesis ini mengatakan tata surya terbentuk akibat adanya bintang lain yang lewat cukup dekat dengan matahari, pada masa pembentukan matahari. Karena jarak yang dekat tersebut, kemudian terjadi benjolan pada permukaan matahari, dan bersama dengan proses internal matahari, bintang lain tersebut manarik materi berulang-ulang dari matahari. Efek gravitasi bintang mengakibatkan terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari. Sementara sebagian besar materi tertarik kembali, sebagian lain tetap berada di orbit, mendingin dan memadat, menjadi benda-benda berukuran kecil yang disebut planetesimal dan beberapa yang besar sebagai protoplanet. Objek-objek tersebut bertabrakan dari waktu ke waktu dan membentuk planet dan bulan, sedangkan sisa materi lainnya menjadi komet dan asteroid.
c.    Hipotesis Pasang Surut Bintang
Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans pada tahun 1917. Menurut hipotesis ini, planet terbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada matahari. Keadaan yang hampir bertabrakan ini menyebabkan tertariknya sejumlah besar materi dari matahari dan bintang lain tersebut oleh gaya pasang surut bersama mereka, yang kemudain terkondensasi menjadi planet. Akan tetapi, astronom Harold Jeffreys tahun 1929 menyebutkan bahwa tabrakan itu tidak mungkin terjadi. Demikian astronom Henry Norris Russell mengemukakan keberatannya atas hipotesis tersebut.
d.   Hipotesis Kondensasi
Hipotesis kondensasi dikemukakan tahun 1950 oleh astronom Belanda, G.P. Kuiper. Menurutnya, tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
e.    Hipotesis Bintang Kembar
Fred Hoyle pada tahun 1956 mengemukakan bahwa dahulu tata surya berupa dua bintang yag hampir sama ukurannya dan letaknya pun berdekatan, kemudian salah satunya meledak menjadi serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya.
B.  Penyusun Utama Tata Surya
1.    Matahari
Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan merupakan komponen utama sistem Tata Surya. Bintang ini berukuran 332.830 massa bumi. Massa yang besar ini menyebabkan kepadatan inti yang cukup besar untuk bisa mendukung kesinambungan fusi nuklir dan menyemburkan sejumlah energi yang dahsyat. Kebanyakan energi ini dipancarkan ke luar angkasa dalam bentuk radiasi eletromagnetik, termasuk spektrum optik. Matahari dikategorikan ke dalam bintang kerdil kuning (tipe G V) yang berukuran tengahan, tetapi nama ini bisa menyebabkan kesalahpahaman, karena dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada di dalam galaksi Bima Sakti, Matahari termasuk cukup besar dan cemerlang. Bintang diklasifikasikan dengan diagram Hertzsprung-Russell, yaitu sebuah grafik yang menggambarkan hubungan nilai luminositas sebuah bintang terhadap suhu permukaannya.
Bintang-bintang yang mengikuti pola ini dikatakan terletak pada deret utama, dan Matahari letaknya persis di tengah deret ini. Akan tetapi, bintang-bintang yang lebih cemerlang dan lebih panas dari Matahari adalah langka, sedangkan bintang-bintang yang lebih redup dan dingin adalah umum. Dipercayai bahwa posisi Matahari pada deret utama secara umum merupakan "puncak hidup" dari sebuah bintang, karena belum habisnya hidrogen yang tersimpan untuk fusi nuklir. Saat ini Matahari tumbuh semakin cemerlang. Pada awal kehidupannya, tingkat kecemerlangannya adalah sekitar 70 persen dari kecermelangan sekarang.[4]
Matahari merupakan bintang yang sangat besar, dengan garis tengah sekitar 109 kali garis tengah bumi. Namun, masih terdapat bintang lain yang lebih besar dari pada matahari yaitu bintang Antares atau bintang merah yang bersinar terang. Garis tengah bintang Antares sekitar 400 kali garis tengah matahari. Bintang Antares letaknya sangat jauh dari bumi, dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Menurut para ahli, pada matahari terdapat noda hitam yang disebabkan oleh perbedaan suhu di permukaan matahari. Noda hitam ini menandakan kawasan yang “kurang panas” di bandingkan kawasan lainnya. Adakalanya cahaya matahari tidak dapat sampai ke permukaan bumi karena terhalang oleh bulan yang mengelilingi bumi. Keadaan ini disebut gerhana matahari.
Secara harfiah, gerhana dapat diartikan sebagai penggelapan cahaya dari suatu benda langit oleh benda langit lainnya. Kita dapat melihat benda-benda langit dalam tata surya karena benda-benda tersebut dapat memantulkan cahaya matahari. Pada saat benda-benda langit menerima cahaya dari matahari, benda-benda itu membentuk bayang-bayang kerucut yang memanjang menjauhi matahari. Daerah bayang-bayang yang paling gelap dinamakan umbra, sedangkan daerah bayang-bayang yang samar dinamakan penumbra. Gerhana matahari terjadi apabila kedudukan bulan terletak di antara bumi dan matahari.
Ada tiga jenis gerhana matahari, yaitu gerhana matahari total, gerhana matahari sebagian, serta gerhana matahari cincin. Gerhana matahari total terjadi apabila matahari tertutup sepenuhnya oleh bulan. Gerhana matahari total merupakan suatu kejadian yang sangat indah, namun membahayakan mata. Ketika semua cahaya matahari sudah seluruhnya tertutup oleh bulan dan yang terlihat hanya coronanya saja, maka aman bagi kita untuk melihatnya. Tetapi selama gerhana matahari masih berlangsung, maka apabila kita melihat langsung ke atas dapat merusak retina mata kita.
Gerhana matahari total terjadi pada daerah umbra, sedangkan gerhana matahari cincin terjadi pada daerah penumbra. Apabila jarak antara bumi dengan matahari lebih jauh dibandingkan penumbra, maka daerah dalam perpanjangan penumbra akan mengalami gerhana matahari sebagian.
Matahari terdiri dari beberapa lapisan, yaitu korona, kromosfir, fotosfir, dan protuberens. Korona merupakan lapisan matahari paling luar yang mengelilingi kromosfir. Lapisan korona hanya nampak pada saat terjadi gerhana matahari total yang berwarna putih berkilau. Kadang-kadang korona terlihat seperti bunga matahari.
Kromosfir merupakan lapisan gas tebal yang mengelilingi fotosfir. Sama halnya seperti korona, kromosfir juga hanya nampak pada saat terjadi gerhana matahari total dengan warna merah. Fotosfir merupakan lapisan permukaan matahari yang nampak bulat putih dan menyilaukan. Protuberens merupakan lapisan yang berada di sekeliling kromosfir. Protuberens ini berupa kepulan-kepulan gas seperti lidah api.[5]
2.    Planet
Berdasarkan kriteria IAU, planet adalah benda langit yang:
a.    Mengorbit Matahari
b.    Bentuk fisiknyanya cenderung bulat
c.    Orbitnya bersih dari keberadaan benda angkasa lain
Planet-planet yang berada dalam sistem Tata Surya adalah : Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Sejak tahun 2006, Pluto tidak dikategorikan lagi sebagai planet karena kriteria ke-3 dari tiga kriteria di atas tidak dipenuhi oleh Pluto. Pluto memiliki orbit yang memotong orbit Neptunus sehingga dianggap orbit Pluto belum bersih dari benda angkasa lain.[6]
3.    Planet Kerdil
Planet-kerdil (Dwarf Planet) merupakan kategori baru dalam keanggotaan tata surya berdasarkan resolusi IAU tahun 2006. Sebuah benda angkasa dikatakan planet kerdil jika:
a.    Mengorbit Matahari
b.    Bentuk fisiknya cenderung bulat
c.    Orbitnya belum bersih dari keberadaan benda angkasa lain.
d.   Bukan merupakan satelit
Contoh dari planet kerdil ini adalah Pluto dan Ceres yang orbitnya berada di lingkungan asteroid. Ceres tadinya dikategorikan sebagai salah satu asteroid terbesar yang berada di sabuk asteroid. Sejak tahun 2006, Ceres dikategorikan sebagai planet kerdil karena memenuhi kriteria di atas.[7]
4.    Satelit
Satelit adalah benda langit pengiring planet. Satelit senantiasa mengiringi dan berputar terhadap planet pusatnya.
Berdasarkan cara terbentuknya satelit dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu:
a.    Satelit Alam, adalah satelit yang terbentuk karena adanya peristiwa alam bersamaan dengan terbentuknya planet. Contoh: Bulan, sebagai satelit alam Bumi; Titan, sebagai satelit alam Saturnus.
b.    Satelit Buatan, adalah satelit yang dibuat oleh manusia yang digunakan untuk tujuan tertentu. Contoh: Satelit cuaca, satelit komunikasi, satelit mata-mata, dan sebagainya.[8]
5.    Asteroid
Asteroid secara umum adalah objek tata surya yang terdiri atas batuan dan mineral logam beku. Dalam tata surya diperkirakan ada lebih dari 100.000 asteroid. Asteroid terbesar bernama Ceres dengan garis tengah kurang lebih 685 km, namun setelah tahun 2006 Ceres diklarifikasi lebih lanjut dan kemudian dinyatakan sebagai anggota dari Planet Kerdil. Asteroid lainnya adalah Gaspra, Ida, Vesta, dan Hygeia.
Asteroid banyak dijumpai diantara lintasan Mars dan Jupiter. Diantara Mars dan Jupiter ini terdapat daerah yang disebut Sabuk Asteroid, yang merupakan kumpulan batuan metal dan mineral. Kebanyakan asteroid ini hanya berdiameter beberapa kilometer dan beberapa memiliki diameter 100 km atau lebih. Sabuk asteroid utama terletak diantara orbit Mars dan Jupiter, berjarak antara 2,3 hingga 3,3 AU, diduga merupakan sisa dari formasi tata surya yang gagal.[9]
6.    Komet
Komet adalah bintang pengembara, yang melintasi Matahari sambil melintas orbit elips yang sangat panjang. Komet terbentuk dari gas, debu, dan bongkahan es sisa penciptaan tata surya. Seperti pada umumnya, komet akan terlihat lebih bercahaya ketika posisi mereka lebih dekat dengan matahari, karena radiasi matahari mendidihkan partikel es dan debu di inti komet. Material berbentuk awan ini disebut kepala (coma) kadang-kadang memiliki ekor, terlihat bercahaya karena memantulkan bentuk sinar matahari. Panjang ekor komet bisa mancapai lebih dari 100 juta kilometer. Sambil mengelilingi orbit yang oval panjang, kepala komet selalu menghadap Matahari.
Beberapa komet yang sudah dikenal adalah Komet Hyakutake, Komet Halley, Komet Encke (secara resmi dinamai 2P/Encke), Komet West, Komet Ikeya-Seki, Comet Kohoutek, Komet Shoemaker-Levy 9 (SL9, secara resmi disebut D/1993 F2), dan Komet Biela (sebutan resmi: 3D/Biela).[10]


KESIMPULAN
A.  Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Banyak hipotesis tentang asal usul Tata Surya
1.    Hipotesis Nebula
2.    Hipotesis Planetisimal
3.    Hipotesis Pasang Surut Bintang
4.    Hipotesis Kondensasi
5.    Hipotesis Bintang Kembar
B.  Penyusun Utama Tata Surya
1.    Matahari
2.    Planet
3.    Planet Kerdil
4.    Satelit
5.    Asteroid
6.    Komet



DAFTAR PUSTAKA
Adha Kumala Dewi.  Makalah Tata Surya. dewimarzuki.blogspot.co.id
Anwar, Syaiful. Makalah tentang Tata Surya. Syaiful-Rahayu.com
Jumhana, Nana. Alam Semesta dan Tata Surya. file.upi.edu/…IPA…/UNIT_6.pdf
Maulana, Mochamad Erewin dan Yamin W. Ono. Modul Tata Surya. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Pratama, Yuga. Makalah Tata Surya.  linkbeep.blogspot.co.id
Wikipedia. Tata Surya.  id.m.wikipedia.org/wiki/Tata_Surya



[1] Wikipedia, Tata Surya, id.m.wikipedia.org/wiki/Tata_Surya, di akses tanggal 24 Oktober 2016 pukul 12:30.
[2] Adhakumaladewi, Makalah Tata Surya, dewimarzuki.blogspot.co.id/2011/11/tata-surya.html, diakses tanggal 24 Oktober 2016 pukul 12:30.
[3] Wikipedia, Ibid.
[4] Yuga Pratama, Makalah Tata Surya, linkbeep.blogspot.co.id, diakses tanggal 26 Oktober 2016 pukul 14:00.
[5] Nana Jumhana, Alam Semesta dan Tata Surya, file.upi.edu/…IPA…/UNIT_6.pdf , diakses tanggal 26 Oktober 2016 pukul 14:30, hal 21-24.
[6] Mochamad Erewin Maulana dan Yamin W. Ono, Modul Tata Surya (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta), 7.
[7] Ibid,… 8.
[8] Ibid,…
[9] Syaiful Anwar, Makalah tentang Tata Surya, Syaiful-Rahayu.com, diakses tanggal 28 Oktober 2016 pukul 10:00.
[10] Ibid,…

No comments:

Post a Comment