PENDAHULUAN
-Latar Belakang
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli/pergauli sejak bangku SD bahkan sejak lahirpun kita mendapatkan pengetahuan. Penegetahuan yang baik adalah kebenaran yang real. Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu. Pada dasarnya terdapat dua cara yang benar. Pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman.
Dengan adanya zaman yang semakin berubah dan ilmu pengetahuan juga berkembang maka sudah saatnya kita coba menggali kedalam diri kita sendiri lalu berani untuk bertanya apa yang sudah kita berikan pada kehidupan ini dari ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari. Apakah benar kita sudah belajar? Ataukah kita sebenarnya dibelajarkan? Proses perjalanan waktu dan usia pada diri manusia akan dapat menjawab pertanyaan tersebut. Tanpa kita sadari apapun yang kita peroleh dari kehidupan ini adalah pengalaman yang berarti jika disadari sepenuhnya. Tetapi kadang kita lupa bahwa apa yang kita peroleh itu kita anggap sebagai usaha sendiri, dalam arti tidak ada campur tangan sesuatu yang lain dari diri ini. pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Begitu juga menurut Plato dan Aristoteles membagi pengetahuan pengetahuan menurut tingkatan pengetahuan sesuai dengan karakteristik objeknya. Kedua tokoh ini sangat berpengaruh terhadap kemajuan filsafat ilmu pada abad selanjutnya.
-Rumusan Masalah
Bagaimana biografi dari Plato?
Bagaimana sumber pengetahuan menurut Plato?
Bagaimana biografi dari Aristoteles?
Bagaimana sumber pengetahuan menurut Aristoteles?
PEMBAHASAN
Biografi Plato
Plato lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM. Ia adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philoshophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak di pengaruhi oleh Socrates.
Plato adalah guru Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Politeia, “negeri”) yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”.
Sumber Pengetahuan Menurut Plato
Dalam beberapa pemikirannya ia memperkuat pendapat gurunya yaitu Socrates dalam menghadapi kaum Sofis. Menurut Plato kebenaran umum (definisi) itu buka dengan cara dialog yang induktif, tetapi pengertian umum itu sudah tersedia di sana di alam idea. Idea itu umum, berarti berlaku umum. Selain kebenaran umum, menurut Plato ada kebenaran khusus, yaitu kongkretisasi idea di alam ini.
Di dunia idea adalah realitas yang sebenarnya, sedangkan di dunia ini adalah bayangan. Ajaran Plato tersebut dikenal dengan nama dualistis, dengan prinsip membagi dunai menjadi dua yaitu dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap, bermacam-macam dan berubah; dan dunia ide yang bersifat tetap, hanya satu macam dan tidak berubah. Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas. Realitasnya ya di alam itu.
Sebagai titik tolak pemikiran filsafatnya, ia mencoba menyelesaikan permasalahan lamanya: mana yang benar yang berubah-ubah (tokoh Heracleitos) atau yang tetap (tokoh Permanides). Mana yang benar pengetahuan lewat indera dengan pengetahuan lewat akal. Pengetahuan yang diperoleh lewat indera disebutnya pengetahuan indera atau pengetahuan pengalaman. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh lewat akal disebut pengetahuan akal. Pengetahuan indera atau pengetahuan pengalaman bersifat tidak tetap atau berubah-ubah, sedangkan pengetahuan akal bersifat tetap atau tidak berubah.
Sebagai contoh, terdapat banyak segitiga yang bentuknya berlain-lainan menurut pengetahuan indera atau pengetahuan pengalaman, tetapi dalam ide atau pikiran bentuk segitiga tersebut hanya satu dan tetap dan ini menurut pengetahuan akal.
Sebelumnya, Heraclitos melihat bahwa tidak ada dunia inderawi yang rill, sebab segala sesuatu selalu berubah. Ada tiga gagasan Heraclitos yang mempengaruhi Plato;
Segala sesuatu terus berubah, tak ada yang diam.
Hanya ada satu yang benar-benar nyata, yang tidak berubah yaitu logos. Logos digambarkan sebagai sebuah api alamiah yang terus menerus menggerakkan perubahan. Logoslah yang menjadi sebab perbuahan terus menerus, serta yang mengatur serta menyatukan keberubahan tersebut. Karena itu logos dianggap sebagai sumber pengetahuan, yang melaluinya segala perubahan bisa diketahui maknanya.
Segala sesuatu terdiri dari unsur-unsur yang saling bertentangan, seperti hari yang tersusun dari siang dan malam. Kesatuan (yaitu logos) dengan demikian dibangun oleh perbedaan-perbedaan unsur yang banyak.
Sedangkan Permeinedes menegaskan perubahan itu ilusi, realitas tidak pernah berubah. Realitas ini sungguh-sungguh ada, karena itu ia bersifat tetap. Permienedes tidak mempercayai pengetahuan berdasarkan inderawi. Kegiatan inderawi menipu, demikian katanya, dan kegiatan “berpikir” (noein) yang menunjukkan kebenaran utama.
Plato menggabungkannya dengan cara yang lebih sistematis, bagi Plato:
Realitas itu memiliki dua kenyataan, ada yang berubah (seperti pemikiran Heraclitos) dan ada yang tetap (seperti pemikiran Permeinedes).
Yang berubah tertangkap inderawi, sedang yang tetap tertangkap oleh pikiran (noetic, logos).
Logos, sebagaimana dikemukakan Heraclitos, menjadi sebab perubahan terus menerus, serta yang mengatur dan menyatukan segala keberubahan. Karena itu logos menjadi asal yang harus dicari dari perubahan yang tampak.
LALU APAKAH LOGOS ITU? KENAPA IA BERADA DI LUAR DUNIA INI?
Seperti yang telah dikemukakan di atas, Plato menyimpulkan bahwa pasti ada realitas di balik “dunia meter”. Dia menyebut realitas itu dunia ide, di situ tersimpan “pola-pola” yang kekal dan abadi. Pada pola itu tak bisa ditemukan begitu saja dengan sekali lihat, ia membutuhkan pemikiran yang menggunakan akal. Kemampuan akal menemukan pola itu disebut sebagai ide. Logos adalah hukum yang menguasai segala sesuatu, yang juga menguasai manusia, di sini logos berarti dunia ide. Namun logos kerap dimaknai juga sebagai pikiran yang sanggup menangkap hukum logos, di sini logos berarti dunia idea.
Bagi Plato kenyataan yang kita alami di dunia ini hanyalah bayangan dari logos, sebagai bayangan tentu saja tidak memiliki keberadaan yang mandiri. Lebih mudahnya, kita mengutip amsal Jostein Gaardner.
“Jika kamu lihat kue pancong, kamu menemukan bentuk kue yang sama bukan? Setengah elips, seperti bulan setengah. Pertanyaannya, kenapa semuanya berbentuk sama?. Kamu bisa jawab?. Tentu saja, mudah. Semua adonan dibuat oleh memang tukang pancong dalam cetakan yang sama. Jadi wajar saja jika semuanya memiliki bentuk yang sama.”
Gaardner membicarakan perihal “pengenalan bentuk” dan “penemuan cetakan”. Cetakan kue pancong tentu saja tidak berada di dalam kue pancong, ia terpisah namun jadi penentu bentuk dari kue pancong. Tanpa “cetakan” tak akan ada kue pancong, yang ada hanyalah adonan tepung dalam bentuk pasta. Cetakan itu adalah Logos, dunia ide yang menyimpan pola-pola ada sejati yang berada terpisah dari kenyataan benda-benda duniawi.
Sebelum menemukan kesimpulan bahwa ada cetakan yang menyebabkan kesamaan kue pancong, kita mengenali adanya kesamaan bentuk ini hanya bisa dilakukan oleh pikiran dengan cara membandingkan satu kue dengan kue lain. Indera hanya mencerap benda-benda, ia tak pernah bisa membandingkan satu hal dengan hal lain. Di sinilah, pikiran disebut sebagai logos karena kemampuannya mengenali bentuk dan menghubungkannya dengan cetakan.
Plato di sini menegaskan perbedaan antara “dunia yang berubah” dan “yang kekal” sekaligus juga mengusung persoalan cara mengenali keduanya; bagi Plato pancera indera tidak dapat memikirkan sesuatu, dan akal tidak dapat mencerap sesuatu. Hanya bila kedua-duanya bergabung timbullah pengetahuan mencerap tanpa dibarengi proses berpikir akal budi sama dengan kebutaan, pikiran tanpa isi dari indera sama dengan kehampaan.
Puncak-puncak pengetahuan baru tetrcapai, bila kesatuan antara pengetahuan inderawi dan akal budi sam-sama dialami. Demikianlah kira-kira pengertian tentang ide sebagai lawan dari indera. Idea memang dalam bahasa Yunani berkaitan dengan arti “melihat”, jadi idea bagi Plato bagaimanapun terkait dengan kerja indera (menerima data dari indera baru kemudian muncul idea dalam ruang pikiran) bukan sesuatu yang abstrak (terlepas begitu saja dari realitas).
LALU BAGAIMANA CARA KERJA AKAL UNTUK MENDAPATKAN IDE?
Pada inti ajaran Socrates menurutnya adalah “kebaikan adalah pengetahuan”. Rumusan ini menimbulkan pertanyaan dalam diri Plato: “apakah pengetahuan itu? Bagaimanakah cara manusia mendapatkan penegetahuan?”. Untuk jawaban ini, Plato menuliskan suatu cerita:
“Bayangkanlah orang-orang di dalam semacam tempat tinggal di bawah tanah yang berbentuk gua dengan jalan masuk yang panjang. Jalan itu terbuka menghadap sinar matahari. Sejak mudanya orang-orang itu di sana dengan kaki dan leher yang terikat, sehingga mereka tidak dapat meninggalkan tempatnya dan hanya dapat melihat ke depan saja. Orang-orang seperti mereka itu tidak pernah dapat melihat apa-apa selain dari bayangan-bayangan di dinding mereka, dan mereka mengira, bahwa dengan memberikan nama kepada apa-apa yang mereka lihat telah memberikan nama kepada kenyataannya sendiri”.
Plato menganggap bahwa pengetahuan kita akan kehidupan persis seperti manusia gua itu. Seluruh nama-nama, konsep kebenaran dan keyakinan tidak berdasar pada kenyataan yang sebenarnya. Semuanya berdasar pada bayangan dari kenyataan yang sebenarnya. Bayangan itu sebagian dari kenyataan, dan “seorang pecinta kearifan menhendaki seluruh kebijaksanaan bukan hanya sebagian saja”, demikian tulis Plato.
Bayangan itu adalah “pendapat tentang kenyataan” (eikasia), ia bisa berasal dari amatan orang lain yang kita anggap lebih ahli atau berasal dari kepercayaan umum. Namun, sehebat-hebatnya pendapat orang lain adalah milik orang lain bukan milik kita sendiri. Padahal pengetahuan yang mengarahkan kebahagiaan adalah pengetahuan yang kita alami sendiri, yang kita sadari secara utuh. Pendapat orang lain tentang kenyataan disebut eikasia, yang secara bebas bisa diartikan sebagai ilusi atau gosip. Eikasia tidak mengantarkan manusia pada kearifan, malah akan membuat orang terjerembab dalam kesalahan yang fatal, yaitu kita tak menemukan kebahagiaan dalam hidup.
Untuk itu, bagi Plato, kita harus mencari sumber bayangan tersebut. Setiap bayangan tentu hasil dari penyinaran dari suatu benda. Kita harus melihat langsung kehidupan nyata yang semula hanya bayangannya saja yang kita terima. Setelah kita melihat benda-bendanya secara langsung kita menemukan sesuatu yang berbeda. Kita sanggup menghasilkan pendapat sendiri berdasarkan apa yang kita lihat. Akan tetapi, pengetahuan yang hanya berdasar pada apa yang terlihat disebut pistis, dan bagi Plato pistis merupakan jalan menuju kesesatan. Karena menurutnya apa yang kita lihat belum tentu menggambarkan keseluruhan obyek itu.
Misalnya, suatu pagi seseorang melihat kucing hitam, dan menamainya sebagai “kucing”, beberapa saat kemudian ia melihat binatang yang bentuk dan ukurannya sama, namun warnanya putih; binatang kedua ini bisa ia namakn sebagai “kucing”. Kenapa? Karena pengetahuan inderawi bertumpu pada apa yang tampak, warna salah satunya. Perbedaan warna menghambat kita untuk menyatakan “kucing hitam” dan “kucing putih” sebagai jenis binatang yang sama. Di sinilah dibutuhkan pengertian umum, yaitu pengertian tentang suatu hal yang tidak terjebak pada bagian-bagian seperti warna.
Untuk itu Plato tidak percaya pada pengetahuan yang hanya bersumber dari pengamatan inderawi saja. Jika kita hanya percaya pada sumber inderawi, kita banyak membutuhkan nama untuk satu jenis binatang seperti kucing, kita akan kerepotan menghapal nama-nama karena semua hal dianggap berbeda dan harus memiliki satu nama yang mandiri. Maka Palto merasa perlu untuk memperlengkapi daya inderawi dengan daya berfikir abstrak (dianoia). Maksudnya, kita harus menemukan pengertian umum dari apa yang diberikan oleh indera. Cara untuk menemukan pengertian umum disebut sebagai abstraksi, yaitu kegiatan menyingkirkan bagian-bagian dari suatu benda sehingga yang tersisa adalah ciri umunya saja. Yang terlihat oleh indera dianggap oleh daya dianoia sebagai simbol dari hal-hal yang non inderawi.
Dari empat cara di atas, menurut Plato pengetahuan tingkat tertinggi disebut noesis, pengetahuan yang objeknya adalah arche ialah prinsip-prinsip utama yang mencakup epistimologik dan metafisik. Prinsip utama ini biasa disebut “IDE”. Plato menerangkan tentang pengetahuan ini adalah hampir sama dengan pengetahuan pikir, tetapi tidak lagi menggunakan pertolongan gambar, diagram melainkan dengan pikiran yang sungguh-sungguh abstrak. Tujuannya adalah untuk mencapai prinsip-prinsip utama yang isinya hal-hal yang berupa kebaikan, kebenaran, dan keadilan. Menurut Plato cara berpikir untuk mencapai tingkat tertinggi dari pengetahuan itu adalah dengan menggunakan metode dialog sehingga dapat dicapai pengetahuan yang sungguh-sungguh sempurna yang biasa disebut Episteme.
Biografi Aristoteles
Aristoteles lahir 384 SM di Stageira, sebuah kota koloni Yunani di semenanjung Chalcidice yang berada di wilayah Macedonia, yang terletak di sebelah utara Yunani. Ayahnya, Nichomachus adalah sahabat dan dokter keluarga Amyntas II, raja Macedonia, ayah raja Philippos dan kakek Alexandros yang kemudian terkenal dengan nama Alexander yang Agung.
Pada usia 17 tahun, Aristoteles menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun. Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia. Saat Alexander berkuasa pada tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM. Kemudian ia meletakkan pimpinan Lyceum ke tangan muridnya, Theophrastos. Setelah tahun berikutnya ia jatuh sakit dan meninggal di tempat pembuangan pada usia 62 atau 63 tahun. Dan sampai sekarang kita masih memiliki teks wasiat Aristoteles yang disimpan oleh Diogenes Laertios.
Sumber Pengetahuan menurut Aristoteles
Aristoteles, murid dan juga teman serta guru plato adalah orang yang mendapat pendidikan yang baik sebelum menjadi filosof. Keluarganya adalah orang-orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Sifat berfikir saintifik ini besar pengaruhnya pada Aristoteles. Oleh karena itu, kita menyaksikan filsafat Aristoteles berbeda warnanya dari filsafat Plato : sistematis, amat dipengaruhi oleh metode empiris.
Empirisme adalah doktrin bahwa sumber seluruh pengatahuan harus dicari dalam pengalaman. Salah satu teori mengenai asal pengetahuan biasanya bertolak belakang dengan rasionalisme yang lebih menekankan akal daripada pengalaman. Sedangkan menurut aliran empirisme, akal bukan jadi sumber pengetahuan, tetapi akal mendapat tugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman.
Menurut penganut empirisme metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori, tetapi a posteriori. Yang dimaksud dengan metode a posteriori ialah metode yang berdasarkan atas hal-hal yang datang atau terjadinya atau adanya kemudian. Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang memadai itu ialah pengalaman, yang dimaksud dengan pengalaman disini ialah pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman batin yang menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.
Aristoteles (384-322 SM) seorang filsuf besar Yunani, yang dianggap sebagai “Bapak Penalaran Deduktif” menyusun cara untuk menarik kesimpulan secara benar yang disebut silogisme. Sesungguhnya, silogismelah yang merupakan penemuan Aristoteles yang murni dan yang terbesar dalam logika. Silogisme adalah suatu bentuk dari cara memperoleh konklusi yang ditarik dari proposisi demi meraih kebenaran, bukan semata-mata untuk menyusun argumentasi dalam suatu perdebatan, melainkan juga sebagai metode dasar bagi pengembangan semua bidang ilmu pengetahuan.
Silogisme terdiri atas tiga proposisi. Dari ketiga proposisi itu, proposisi yang ketiga merupakan konklusi yang ditarik dari proposisi pertama dengan bantuan proposisi kedua. Proposisi ketiga disebut konklusi sedangkan proposisi pertama dan kedua disebut premis.
Contoh silogisme:
Manusia tidak kekal
Plato adalah manusia
Jadi: Plato tidak kekal
Ketika kalimat dalam silogisme tersebut diatas disebut proposisi. Dua kalimat pertama, yaitu: Manusia tidak kekal dan plato adalah manusia disebut premis. Kalimat yang ketiga, yaitu: Plato tidak kekal disebut konklusi.
Menurut Aristoteles, ada dua cara menarik kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan baru. Cara yang pertama disebut apodiktik atau deduksi, yaitu cara menarik kesimpulan berdasarkan dua kebenaran yang pasti dan yang tak diragukan dan yang bertolak dari yang bersifat universal ke khusus. Silogisme sebagai suatu prosedur penalaran untuk memperoleh konklusi yang berdasarkan premis yang benar adalah suatu bentuk formal dari apodiktik atau deduksi.
Cara yang kedua ialah yang disebut epagogi atau induksi, yaitu cara menarik konklusi yang bersifat umum dari hal-hal yang khusus. Induksi bertolak dari pengamatan dan pengetahuan inderawi berdsarkan pengalaman, sedangkan deduksi sebaliknya sama sekali lepas dari pengamatan dan pengetahuan inderawi yang berdasarkan pengalaman itu.
Menurut Aristoteles, deduksi adalah cara yang terbaik untuk menarik kesimpulan demi memperoleh suatu pengetahuan baru. Oleh sebab itu di dalam logika, Aristoteles tidak begitu memberi tempat bagi induksi. Di dalam logika modern, barulah induksi memperoleh tempat khusus.
Untuk memahami segala sesuatu yang ada, maka ada itu harus senantiasa diuraikan kedalam sepuluh segi keberadaan yang oleh Aristoteles disebut sepuluh kategori, yaitu: Substansi, kuantitas, kualitas, hubungan, tempat, waktu, posisi, keadaan, aksi/kegiatan, passivitas.
Aristoteles mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi tiga golongan, yaitu:
Ilmu pengetahuan praktis (etika dan politik)
Ilmu pengetahuan produktif (tehnik dan kesenian)
Ilmu pengetahuan teoritis (fisika, matematika dan metafisika).
KESIMPULAN
Plato lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM. Plato adalah guru Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik.
Sumber pengetahuan menurut Plato berdasarkan rasionalisme yaitu menggunakan akal, dan membaginya menjadi empat pengethauan; ekasia (khayalan), pistis, dianoya dan noesis. Dan pengetahuan yang paling tinggi menurut Plato adalah noesis.
Aristoteles lahir 384 SM di Stageira. Ia mendirikan sebuah akademi sendiri yang diberi nama Lyceum.
Sumber pengetahuan menurut Aristoteles berdasarkan paham empirisme yaitu lebih kepada pengalaman, dan ia membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga golongan, yakni: ilmu pengetahuan praktis (etika dan politik), ilmu pengetahuan produktif (teknis dan kesenian), dan ilmu pengetahuan teoritis (fisika, matematika dan metafisika). Menurut Aristoteles, ada dua cara menarik kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan baru yakni deduktif dan induktif, tetapi menurut Aristoteles, deduksi adalah cara yang terbaik untuk menarik kesimpulan demi memperoleh suatu pengetahuan baru.
No comments:
Post a Comment